askep rhinitis pada hidung

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.

Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. Alergi hidung adalah keadaan atopi yang aling sering dijumpai, menyerang 20% dari populasi anak-anak dan dewasa muda di Amerika Utara dan Eropa Barat.

Di tempat  lain, alergi hidung dan penyakit atopi lainnya kelihatannya lebih rendah, terutama pada negara-negara yang kurang berkembang. Penderita Rhinitis alergika akan mengalami hidung tersumbat berat, sekresi hidung yang berlebihan atau rhinore, dan bersin yang terjadi berulang cepat.

  1. Tujuan
  • Tujuan Umum

Untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan rhinitis

  • Tujuan Khusus
    • Untuk mengetahui pengkajian pada pasien dengan rhinitis
    • Untuk mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien dengan rhinitis
    • Untuk mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien dengan rhinitis
    • Untuk dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien dengan rhinitis
    • Untuk dapat mengevaluasi pasien dengan rhinitis.

BABII
ISI

  1. Tinjauan teoritis
  1. Definisi

Rhinitis berasal dari kata “rhino” yang artinya hidung, dan “itis” yang artinya peradangan. Jadi rhinitis adalah gangguan peradangan pada selaput mukosa/lendir hidung. Sedangkan alergi adalah penyebabnya. Jadi rhinitis alergi adalah peradangan selaput lendir hidung karena alergi. Istilah lainnya dalam bahasa Inggris adalah “hay fever”.  Rhinitis bisa juga disebabkan karena hipersensitivitas saraf-saraf di sekitar hidung, misalnya terhadap perubahan cuaca, perubahan kelembaban udara, dll. Rhinitis jenis ini disebut rhinitis vasomotor. Rhinitis jenis ini tidak mempan diobati dengan obat anti alergi

Rhinitis Alergi adalah kondisi hidung memerah dan di sepanjang lapisan hidung membengkak, atau radang bisa bermacam – macam bantuknya, bergantung pada factor penyebab. Salah satu penyebabnya adalah sejenis virus yang juga menyebabkan pilek biasa, tetapi virus tersebut menjadi allergen yang menyebabkan rhinitis.

Rinitis adalah suatu inflamasi membran mukosa hidung dan mungkin dikelompokan baik sebagai rinitis alergik atau non-alergik. (Keperawatan Medikal-Bedah: Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2002)

  1. Tanda dan gejala

Gejala rinitis ini ditandai dengan hidung tersumbat, bersin-bersin, hidung berair, pilek dan pada beberapa kasus dapat menyebabkan mata merah dan berair.

  1. Anatomi dan Fisiologi

ANATOMI HIDUNG

Hidung Luar

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah :

  • Pangkal hidung (bridge)
  • Dorsum nasi
  • Puncak hidung
  • Ala nasi
  • Kolumela
  • Lubang hidung (nares anterior)

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :

Superior : os frontal, os nasal, os maksila

Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor

Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.

Persarafan :

Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)

Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)

Kavum Nasi

Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media.

Batas – batas kavum nasi :

  • Posterior :berhubungan dengan nasofaring
  • Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer
  • Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.
  • Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela.
  • Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.

Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.

Perdarahan :

Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri.

Persarafan :

  • Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior
  • Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.
  1. Klasifikasi Rhinitis

1) Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi :

a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.

b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.

2)  Berdasarkan penyebabnya, dapat dibedakan menjadi:

a.  Rhinitis alergi

Merupakan  penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara.

Macam-macam  rhinitis alergi, yaitu:

1. Rinitis alergi musiman (Hay Fever),

Biasanya terjadi pada musim semi.Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.

2. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)

Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat

3) Rhinitis Non Alergi

Rhinitis non allergi disebabkan oleh infeksi saluran napas karena masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan anti hipertensif.

Macam-macam rhinitis non alergi, yaitu:

a. Rhinitis vasomotor

Rhinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis.

b. Rhinitis medikamentosa

Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan.

c. Rhinitis atrofi

Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka.

  1. Penatalaksanaan

1) Penatalaksanaan Medis

a. Drainage

1. Dengan pemberian obat, yaitu dekongestan local seperti efedrin 1%(dewasa) ½%(anak) dan dekongestan oral sedo efedrin 3 X 60 mg.

2. Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris.

b. Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu:

1. Ampisilin 4 X 500 mg

2. Amoksilin 3 x 500 mg

3. Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet

4. Diksisiklin 100 mg/hari.

c. Pemberian obat simtomatik. Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.

d. Untuk Sinusitis kronis, bisa dengan:

1. Cabut geraham atas bila penyebab dentogen

2. Irigasi 1 x setiap minggu (10-20)

3. Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi).

2)  Penatalaksanaan Pembedahan

a. Radikal

1. Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc.

2. Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.

3. Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian.

b. Non Radikal

Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan membuka dan membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.

  1. Penyebab

Penyebab alergi rinitis bisa berupa rangsangan terhadap debu, serbuk, asap rokok, parfum, rambut, jenis binatang dan bulu binatang tertentu, jenis makanan tertentu, dan juga perubahan udara atau cuaca. Reaksi biasanya timbul peradangan dan pengeluaran cairan yang berlebihan pada hidung maupun mata

  1. Pencegahan

Untuk mencegah alergi ini, usahakan agar tidak terkena debu, polusi atau asap rokok. Hindari hewan peliharaan, karpet dan bahan-bahan yang menyerap debu, kurangi minuman yang dingin dan juga makanan-makanan yang dapat mencetuskan alergi.

  1. Patofisiologi

Patofisiologi rhinitis adalah terjadinya inflamasi dan pembengkakkan mukosa hidung, sehingga menyebabkan edema dan mengeluarkan secret hidung. Rhinitis persisten (menetap) mengakibatkan sikatrik fibrosa pada jaringan pengikat dan antropi kelenjar yang mengeluarkan lendir atau ingus.(Keperawatan Medikal-Bedah).

  1. Etiologi

Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae,kemudian stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi

  1. Pemeriksaan diagnostik

1.  Rinoskopi anterior :

·         Mukosa merah

·         Mukosa bengkak

·         Mukopus di meatus medius

2. Rinoskopi postorior

·         Mukopus nasofaring

3. Nyeri tekan pipi yang sakit

4. Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit

5. X Foto sinus paranasalis :

·         Kesuraman

·         Gambaran “airfluidlevel”

·         Penebalan mukosa

  1. Komplikasi

Sinusitis dapat menyebabkan :

·         Kelainan orbita

·         Kelainan intrakranial

·         Kelainan paru-paru

·         Osteomielitis dan abses subperiosteal biasanya akibat sinusitis frontal dan lebih banyak terjadi pada usia anak-anak. Osteomielitis akibat sinusitis maksila dapat menyebabkan fistula oroantral.

  1. Askep teoritis
  1. Pengkajiaan

a)      Data klien

Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.

b)    Riwayat sakit dan kesehatan

1.    Keluhan utama: biasanya klien mengeluh nyeri kelapa sinus dan tenggorokan.

2.    Riwayat penyakit saat ini: klien mengeluh hidung tersumbat, pilek yang sering kambuh, demam, pusing, ingus kental di hidung, nyeri di antara dua mata, penciuman berkurang.

3.    Riwayat penyakit dahulu:

·      Klien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma.

·      Klien pernah mempunyai riwayat penyakit THT.

4. Riwayat kesehatan kelurga

Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.

5. Pola fungsi kesehatan:

  • Pola persepsi dan tatalaksana hidup. Contohnya, untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.
  • Pola nutrisi dan metabolisme. Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung.
  • Pola istirahat dan tidur. Adakah indikasi klien merasa tidak dapat istirahat karena sering flu.
  • Pola persepsi dan konsep diri. Klien sering flu terus menerus dan berbau yang menyebabakan konsep diri menurun.
  • Pola sensorik. Daya penciuman klien terganggu kaena hidung buntu akibat flu terus menerus (baik purulen, serous maupun mukopurulen).

6. Pemeriksaan fisik

  • Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.
  • Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).

7. Data subyektif

1. Observasi nares:

  • Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya.
  • Riwayat pembedahan hidung atau trauma.
  • Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah, frekwensinya ,lamanya.

2. Sekret hidung:

  • Warna, jumlah, konsistensi sekret.
  • Epistaksis.
  • Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.

3. Riwayat sinusitis:

  • Nyeri kepala, lokasi dan beratnya.
  • Hubungan sinusitis dengan musim / cuaca.

4. Gangguan umum lainnya: kelemahan.

5.  Data obyektif

a.  Demam

b.  Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang.

c.  Kemerahan dan Odema membran mukosa

6.  Pemeriksaan penunjung :

  • Kultur organisme hidung dan tenggorokan.
  • Pemeriksaan rongent sinus.
  1. Diagnosa keperawatan

1.Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi / adanya secret yang mengental.

2. Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung.

3. Hipertermi berhubungan dengan peradangan pada hidung.

4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafus makan menurun sekunnder dari peradangan sinus.

5.Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidungtersumbat, nyeri sekunder peradangan hidung.

  1. Intervensi

1. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi / adanya sekret yang mengental.

Tujuan: Jalan nafas efektif setelah sekret dikeluarkan.

Kriteria Hasil:

  • Klien tidak bernafas lagi melalui mulut
  • Respiratory Rate 16-20x/menit
  • Suara napas tambahan tidak ada.
  • Ronkhi (-).
  • Dapat melakukan batuk efektif.
Intervensi Rasional
a.         Kaji penumpukan sekret yang ada.b.         Observasi tanda-tanda vital

c.         Ajarkan batuk efektif

d.

Kolaborasi pemberian nebulizing dengan tim medis  untuk pembersihan secret

e.

Evaluasi suara napas, karakteristik sekret, kemampuan batuk efektif.

a.         Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnyab.         Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi.

c.         Mengeluarkan sekret di jalan napas

d.         Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah

e.         Ronkhi (-) mengindikasikan tidak ada cairan/sekret pada paru, jumlah, konsistensi, warna sekret di kaji untuk tindakan selanjutnya

2.   Nyeri : kepala, tenggorokan, sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung.

Tujuan: Nyeri klien berkurang atau hilang.

Kriteria Hasil:

  • Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang.
  • Klien tidak menyeringai kesakitan
Intervensi Rasional
a.       Kaji tingkat nyeri klienb.         Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien  serta keluarganya

c.         Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi

d.         Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien

e.         Kolaborasi dngan tim medis dalam pmbrian obat.

1)

a.         Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnyab.         Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri

c.         Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri

d.         Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.

e.   Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien

  1. Implementasi

1. Mendorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosis kesehatan

2. Mengatur kelembapan ruangan untuk mencegah pertumbuhan jamur

3. Menjauhkan hewan berbulu dari pasien alergi, namun hal ini sering tidak dipatuhi terutama oleh pecinta binatang

4. Membersihkan kasur secara rutin


e. Evaluasi

1.Mengetahui tentang penyakitnya

2. Sudah bisa bernafas melalui hidung dengan normal

3. Bisa tidur dengan nyenyak

4. Mengutarakan penyakitnya tentang perubahan penampilan

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Rhinitis berasal dari kata “rhino” yang artinya hidung, dan “itis” yang artinya peradangan. Jadi rhinitis adalah gangguan peradangan pada selaput mukosa/lendir hidung. Sedangkan alergi adalah penyebabnya. Jadi rhinitis alergi adalah peradangan selaput lendir hidung karena alergi. Istilah lainnya dalam bahasa Inggris adalah “hay fever”.  Rhinitis bisa juga disebabkan karena hipersensitivitas saraf-saraf di sekitar hidung, misalnya terhadap perubahan cuaca, perubahan kelembaban udara, dll. Rhinitis jenis ini disebut rhinitis vasomotor. Rhinitis jenis ini tidak mempan diobati dengan obat anti alergi.

Gejala rinitis ini ditandai dengan hidung tersumbat, bersin-bersin, hidung berair, pilek dan pada beberapa kasus dapat menyebabkan mata merah dan berair.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marilynn E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC

Herdman T. Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC

Junadi, purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Long, barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung: Yayasan IAPK Pajajaran

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s