Ayoo ikuti pelatihan BTCLS angkatan ke-9 tanggal 24-28 Maret 2015 yang dilaksanakan oleh TON bekerjasama dengan PPNI & GADAR MEDIK INDONESIA
Satu pelatihan dapat 2 srtifikat ( srtfkat GDMI akrdtasi PPNI pusat 3 SKP & srtfkat KEMENKES 1 SKP) kapan lagi coba..
Udah nggak usah pikir panjang ayo daftar dijamin nggak bakalan nyesel. Instruktur sudah berpengalaman di bnyak wilayah indonesia…
CP : 082387967996 / pin 756554BC (Nini)

View on Path

komunikasi dalam organisasi

BAB I

PENDAHULUAN

 

Persepsi dan komunikasi ini amat erat dan penting sekali diketahui guna memahami ilmu prilaku ini. Komunikasi terjadi jika seseorang ingin menyampaikan informasi kepada orang lain. dan komunikasi tersebut dapat berjalan baik dan tepat dan jika penyampaian informasi tadi menyampaikannya dengan patut, dan penerima informasi menerimanya tidak dalam bentuk distorsi.

Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif  yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan yang menghasilkan suatu gambar unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dengan kenyataannya.

Adapun komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terdiri dalam suatu organisasi tertentu. Kalau dalam organisasi dikenal adanya struktur formal dan informal maka dalam komunikasinya yang kiranya juga amat penting dikemukakan sebagai unsur kontinum yang ketiga ialah komunikasi antarpribadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

 

PENGERTIAN KOMUNIKASI

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.

Beberapa definisi komunikasi :

1. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).

2. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).

3. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)

Komunikasi Organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.

Tujuan komunikasi dalam proses organisasi tidak lain dalam rangka membentuk saling pengertian (mutual undestanding) . Pendek kata agar terjadi penyetaraan dalam kerangka referensi, maupun dalam pengalaman.

DASAR-DASAR KOMUNIKASI

Komunikasi mempunyai dasar-dasar sebagai berikut :

> Niat menyangkut :Apa yang akan disampaikan, Siapa sasarannya, Apa yang akan dicapai, Kapan akan disampaikan.

 

> Minat, ada dua factor yang mempengaruhi yaitu:

· Faktor obyektif : merupakan rangsang yang kita terima

· Faktor subyektif : merupakan faktor yang menyangkut diri si penerima stimulus

> Pandangan, merupakan makna dari informasi yang disampaikan pada sasaran, menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikir seseorang.

> Lekat merupakan informasi yang disimpan oleh si penerima.

> Libat merupakan keterlibatan panca indera sebanyak-banyaknya.

Unsur-unsur Komunikasi ada 5, yaitu :Komunikator, Menyampaikan berita, Berita-berita yang disampaikan, Komunikasi, Tanggapan atau reaks.

Fungsi komunikasi dalam organisasi
– Proaksi dan regulasi
– Menentukan tujuan organisasi
– Menentukan area permasalahan
– Mengevakuasi performa
– Memberikan komando, instruksi, memimpin, dan mempengaruhi inovasi
– Mendapatkan informasi baru
– Cara mengkomunikasikan susuatu yang baru dalam sosialisasi dan perbaikan
– Harga diri anggota

2. JENIS KOMUNIKASI ORGANISASI

> KOMUNIKASI INTERNAL

Adalah komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu sendiri. Misalnya, Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan berjalan [operasi dan manajemen].

 

 

Dua dimensi komunikasi internal :

>KOMUNIKASI VERTIKAL

Komunikasi dari pimpinan ke staff, dan dari staf ke pimpinan dengan cara timbal balik [two way traffic communication].

” Downward Communication “ komunikasi atas ke bawah. Contoh pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi, penjelasan, perintah, pengumuman, rapat, majalah intern.

” Upward communication ”dari bawah ke atas. Contoh staf memberikan laporan, saran-saran, pengaduan, kritikan, kotak saran, dsb kepada pimpinan

> KOMUNIKASI HORISONTAL

komunikasi mendatar, antara anggota staf dengan anggota staf. Berlangsung tidak formal, lain dengan komunikasi vertikal yang formal. Komunikasi terjadi tidak dalam suasana kerja ! employee relation dan sering timbul rumours, grapevine, gossip.

> KOMUNIKASI DIAGONAL [CROSS COMMUNICATION]

Komunikasi antara pimpinan seksi/bagian dengan pegawai seksi/bagian lain.

> KOMUNIKASI EKSTERNAL

Komunikasi antara pimpinan organisasi [perusahaan] dengan khalayak audience di luar organisasi.

> BENTUK KOMUNIKASI ORGANISASI

Komunikasi sebagai proses memiliki bentuk :

1. Bentuk Komunikasi berdasarkan

a. Komunikasi langsung

Komunikasi langsung tanpa mengguanakan alat.

Komunikasi berbentuk kata-kata, gerakan-gerakan yang berarti khusus dan penggunaan isyarat,misalnya kita berbicara langsung kepada seseorang dihadapan kita.

 

b. Komunikasi tidak langsung

Biasanya menggunakan alat dan mekanisme untuk melipat gandakan jumlah penerima penerima pesan (sasaran) ataupun untuk menghadapi hambatan geografis, waktu misalnya menggunakan radio, buku, dll.

2. Bentuk komunikasi berdasarkan besarnya sasaran :

a. Komunikasi massa, yaitu komunikasi dengan sasarannya kelompok orang dalam jumlah yang besar, umumnya tidak dikenal.

Komunikasi masa yang baik harus :

  • Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele
  • Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami
  • Bentuk gambar yang baik
  • Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio)

b. Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang sasarannya sekelompok orang yang umumnya dapat dihitung dan dikenal dan merupakan komunikasi langsung dan timbal balik.

c. Komunikasi perorangan adalah komunikasi dengan tatap muka dapat juga melalui telepon.

3. Bentuk komunikasi berdasarkan arah pesan :

  1. Komunikasi satu arah

Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran dan sasaran tidak dapat atau tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan umpan balik atau bertanya, misalnya radio.

b. Komunikasi timbal balik.

Pesan disampaikan kepada sasaran dan sasaran memberikan umpan balik. Biasanya komunikasi kelompok atau perorangan merupakan komunikasi timbal balik

1. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi

Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas. Materi pesan dapat berupa :Informasi, Ajakan, Rencana kerja, Pertanyaan dan sebagainya.

2. Simbol/ isyarat

Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.

3. Media/penghubung

Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dsb.

4. Mengartikan kode/isyarat

Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti /dipahaminya.

5. Penerima pesan

Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim

6. Balikan (feedback)

Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.

7. Gangguan

Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

KLASIFIKASI KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

1.Dari segi sifatnya :

a. Komunikasi Lisan

Komunikasi jenis ini tergolong kepada komunikasi aktif, dimana komunika dapat memberikan timbal balik secara langsung apabila terjadi ketidakpahaman.

b. Komunukasi Tertulis

Komunikasi secara tertulis memang memberikan suatu dampak dimana komunikan akan merasa kesulitan dalam memahami maksud dan tujan dari informasi itu, namun komunikasi ini mempunyai dampak yang lama. Dan apabila komunikan lupa dengan apa yang telah dipelajarai sebelumnya, maka ia dapat mengulangi membaca informasi tersebut. Komunikasi ini tergolong komunikasi tidak lagsung, artinya apabila komunikan tidak paham terhadap materi tertulis tersebut, maka komunikan tidak dapat memberikan suatu umpan balik secara langsung. namun dengan berkembangnya teknologi saat ini, maka meskipun komunikasi berjalan secara tidak langsung, namun unpan balik dapat diberikan secara cepat baik melalui telepon, e-mail, dll.

c. Komunikasi Verbal

mencakup aspek-aspek berupa ;

a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.

b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.

c. Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.

d. Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.

e. Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.

f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.

d. Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.

Yang termasuk komunikasi non verbal :

a. Ekspresi wajah

Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.

b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya

c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.

d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.

e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.

f. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.

2. . Menurut Keresmiannya :

a. Komunikasi Formal

b. Komunikasi Informal

•Komunikasi Informal yang terjadi karena adanya komunikasi antara sesama karyawan dalam suatu organisasi.

•Komunikasi informal (the grapevine) biasanya disebarluaskan melalui desas-desus atau kabar angin dari mulut ke mulut dari satu orang ke orang yang lainnya dalam suatu organisasi dimana kebenarannya tidak bisa dijamin karena kadang-kadang bertentangan dengan perusahaan.

•Jadi agar komunikasi informal bisa bermanfaat maka seseorang pemimpin harus bisa memakai jalur ini untuk memperlancar berjalannya komunikasi formal perusahaan (komunikasi formal ini jangan sampai mengakibatkan timbulnya desas-desus yang meresahkan karyawan)

HAMBATAN KOMUNIKASI

1. Hambatan dari Proses Komunikasi

· Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.

 

 

· Hambatan dalam penyandian/simbol

Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.

· Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.

· Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima

· Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.

· Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

2. Hambatan Fisik

Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan (cacat tubuh misalnya orang yang tuna wicara), gangguan alat komunikasi dan sebagainya.

3. Hambatan Semantik.

Faktor pemahaman bahasa dan penggunaan istilah tertentu. Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya : adanya perbedaan bahasa ( bahasa daerah, nasional, maupun internasional), adanya istilah – istilah yang hanya berlaku pada bidang-bidang tertentu saja, misalnya bidang bisnis, industri, kedokteran, dll.

4. Hambatan Psikologis

Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan, sehingga menimbulkan emosi diatas pemikiran-pemikiran dari sipengirim maupun si penerima pesan yang hendak disampaikan.

5. Hambatan Manusiawi

Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi,

kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat

pancaindera seseorang, dll.

CARA MENGATASI HAMBATAN KOMUNIKASI

1. Gunakan umpan-balik

Beri kesempatan pada orang orang lain untuk menyampaikan ide atau gagasannya, sehingga tercipta dua iklim komunikasi dua arah.

2. Kenali si penerima berita

– bagaimana latar belakang pendidikannya,

– bagaimana pengetahuan tentang subyek pembicaraan,

– sejauh mana minat dan perasaanya

3. Rencanakan secara teliti, pertimbangkan baik-baik : apa, mengapa, siapa, bagaimana, kapan

Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:

  • Fungsi informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.
  • Fungsi regulatif. Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu: a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
  • Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
  • Fungsi integratif. Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a. Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi. b. Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Komunikasi dirumuskan sebagai suatu proses penyampaian pesan/informasi diantara beberapa orang. Karenanya komunikasi melibatkan seorang pengirim, pesan/informasi saluran dan penerima pesan yang mungkin juga memberikan umpan balik kepada pengirim untuk menyatakan bahwa pesan telah diterima. Komunikasi sangat penting dalam kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam berkomunikasi seseorang harus memiliki dasar yang akan menjadi patokan seseorang tersebut dalam berkomunikasi. Dalam proses komunikasi kita juga harus ingat bahwa terdapat banyak hambatan-hambatan dalam berkomunikasi.

Tujuan komunikasi adalah berhubungan dan mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan dalam bekerja sama dengan orang lain. Ada dua jenis komunikasi, yaitu verbal dan non verbal, komunikasi verbal atau tertulis dan komunikasi non verbal atau bahasa(gerak) tubuh.Komunikasi dua arah terjadi bila pengiriman pesan dilakukan dan mendapatkan umpan balik. Seseorang dalam berkomunikasi pasti dapat merasakan timbal balik antara pemberi informasi serta penerima informasi sehingga terciptanya suatu hubungan yg mutualisme antara keduanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sutarto. 2006. Dasar-Dasar Organisasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Susanto, DKK. 2004. Strategi Organisasi. Yogyakarta: Amara Books.

http://herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id/files/2009/05/komunikasi-dalam-organisasi.doc

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_organisasi

 

askep empisiema

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

       Diera globalisasi ini,banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi akibat kemajuan teknologi yang semakin canggih. Masalah yang sering muncul diperkotaan adalah gangguan fungsi pernapasan. Gangguan ini terjadi karena semakin banyaknya jumlah polusi yang ada di daerah perkotaan. Apakah gangguan pernapasan hanya menyerang orang yang tinggal diperkotaan? Jawabanya “tidak”. Semua orang dapat mengalami gangguan pernapasan, tetapi yang lebih sering adalah mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Salah satu masalah pernapasaan yaitu Emfisema yang akan saya bahas dalam makalah ini. emfisema adalah Penyakit Paru Obstruksi Kronik. Polusi merupakan menyebab utama terjadinya emfisema. Penderitaemfisema mengalami kemajuan seiring dengan kemajuan teknologi. Tidak hanya kemajuan teknologi yang dapat menyebabkan terjadinya emfisema, gaya hidup juga dapat menyebabkan terjadinya emfisema seperti merokok. Asap rokok dapat menggagnggu fungsi dari silia. Selain itu factor genetik dan infeksi juga berperan sebagai pendukung terjadinya emfisema.

            Emfisema dapat dialami pria dan wanita, tetapi yang lebih sering dialami oleh pria. Kenapa lebih sering dialami pria? Karena pria lebih banyak yang merokok dibandingkan wanita, selain itu pria lebih sering bekerja di luar rumah yang banyak sekali polusi, terutama para buruh.

            Penderita emfisema pada awalnya tidak menunjukkan tanda dan gejala mengalami emfisema ini. Gejala semakin berat setelah penyakit semakin parah. Tanda dan gejala yang tampak pada penderita emfisema adalah dispnea atau kesulitan bernapas. Dispnea dapat terjadi saat klien melakukan aktivitas. Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami emfisema kita dapat melakukan pemeriksaan diagnosti untuk menunjang diagnosis. Dalam keperawatan tindakan awal yang kita lakukan adalah pemeriksaan fisik, dengan melakukan pemeriksaan fisik kita dapat membuat analisis data dan mendapatkan diagnosa, setelah itu kita dapat merencanakan tindakan keperawatan ( intervensi ), kemudian implementasi. Setiap melakukan tindakan keperawatan harus selalu melakukan evaluasi. Evaluasi untuk melihat hasil dari intervensi dan tindakan yang kita lakukan dan dapat mencegah terjadinya kesalahan dalam tindakan keperawatan.

 

 

 

 

 

  1. Tujuan
  • Tujuan umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan ampesiema

  • Tujuan khusus
  • Untuk mengetahui pengkajian pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui intervensi pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui implementasi  pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui evaluasi pada klien ampiema

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. Tinjauan Teoritis
  1. Defenisi

Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun ekspirasi. ( Kus Irianto 2004.216 )

Emfisema merupakan morfologik didefisiensikan sebagai abnormal ruang- ruang paru distal dari bronkiolus terminal dengan destruksi dindingnya. ( Robbins. 1994.253)

Emfisema adalah penyakit obstruksi kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli. ( Corwin. 2000.435 )

  1. Etiologi

Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :1. Rokok Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalannafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi danhiperplasia kelenjar mukus bromkus.2. PolusiPolutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angkakematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padatindustrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkangangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar.3. InfeksiInfeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakitinfeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale,dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapatmenyebabkan terjadinya emfisema.4. Genetik 5. Paparan Debu

  1. Manifestasi Klinis

1.Dispnea

2.Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’

3.Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)

4.Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.

5.Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi

6.Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum

7.Distensi vena leher selama ekspirasi.

  1. Klasifikasi

Terdapat 2 (dua) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru :
a.    Panlobular (panacinar), yaitu terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan.
b.    Sentrilobular (sentroacinar), yaitu perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.

  1. Patofisiologi

Emfisema merupakan kelainan di mana terjadi kerusakan pada dinding alveolus yang akan menyebebkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara akan tergangu akibat dari perubahan ini. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru-paru untuk melakukan pertukaran O2 dan CO2. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) di antara alveoli, jalan nafas kolaps sebagian, dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil. Pada saat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan di antara ruang alveolus yang disebut blebsdan di antara parenkim paru-paru yang disebut bullae. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada ‘dead space’ atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru-paru, selanjutnya terjadi penurunan perfusi O2 dan penurunan ventilasi. Emfisema masih dianggap normal jika sesuai dengan usia, tetapi jika hal ini timbul pada pasien yang berusia muda biasanya berhubungan dengan bronkhitis dan merokok.

Penyempitan saluran nafas terjadi pada emfisema paru. Yaitu penyempitan saluran nafas ini disebabkan elastisitas paru yang berkurang. Penyebab dari elastisitas yang berkurang yaitu defiensi Alfa 1-anti tripsin. Dimana AAT merupakan suatu protein yang menetralkan enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan paru. Dengan demikian AAT dapat melindungi paru dari kerusakan jaringan pada enzim proteolitik. Didalam paru terdapat keseimbangan paru antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan. Perubahan keseimbangan menimbulkan kerusakan jaringan elastic paru. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema. Sumber elastase yang penting adalah pankreas. Asap rokok, polusi, dan infeksi ini menyebabkan elastase bertambah banyak. Sedang aktifitas system anti elastase menurun yaitu system alfa- 1 protease inhibator terutama enzim alfa -1 anti tripsin (alfa -1 globulin). Akibatnya tidak ada lagi keseimbangan antara elastase dan anti elastase dan akan terjadi kerusakan jaringan elastin paru dan menimbulkan emfisema. Sedangkan pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan yang menarik jaringan paru keluar yaitu yang disebabkan tekanan intra pleural dan otot-otot dinding dada dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru.

Pada orang normal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal, tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang sehingga saluran nafas bagian bawah paru akan tertutup. Pada pasien emfisema saluran nafas tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Cepatnya saluran nafas menutup serta dinding alveoli yang rusak, akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Tergantung pada kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada akan tetapi perfusi baik sehingga penyebaran udara pernafasan maupun aliran darah ke alveoli tidak sama dan merata. Sehingga timbul hipoksia dan sesak nafas.

Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai sebagian atau seluruh paru. Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstrusi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus.

 

 

  1. Penatalaksanaan

a.    Penatalaksanaan Umum
1.    Pendidikan terhadap keluarga dan penderita
2.    Menghindari rokok dan zat inhalasi
3.    Menghindari infeksi saluran nafas
b.    Pemberian obat-obatan
1.    Bronkodilator
Ø    Derivat Xantin
Ø    Gol Agonis b2
Ø    Antikolinergik
Ø    Kortikosteroid
2.    Ekspectoran dan Mucolitik
3.    Antibiotik
4.    Terapi oksigen
5.    Latihan fisik
6.    Rehabilitasi
7.    Fisioterapi

  1. Komplikasi
  • Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan
  • Daya tahan tubuh kurang sempurna
  • Tingkat kerusakan paru semakin parah
  • Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas
  • Pneumonia
  • Atelaktasis
  • Pneumothoraks
  • Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien.
  • Sering mengalami infeksi ulang pada saluran pernapasan

 

 

  1. Askep Teoritis
  1. Pengkajiaan
  • Riwayat Sakit dan Kesehatan

1.      Keluhan Utama : sesak napas.

2.      Riwayat Penyakit Sekarang :

    Tuan A tinggal bersama istri dan dua anaknya. Tuan A mengeluh sesak napas, batuk, dan nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas. Banyak sekret keluar ketika batuk, berwarna kuning kental. Tuan A tampak kebiruan pada daerah bibir dan dasar kuku. Tuan A merasakan sedikit nyeri pada dada. Tuan A cepat merasa lelah saat melakukan aktivitas.

3.   Riwayat Penyakit dahulu : 

    Tuan A selama 3 tahun terakhir mengalami batuk produktif dan pernah menderita pneumonia

4.   Riwayat Keluarga :

    Tidak Ada

  • Pemeriksaan fisik
    1.    Inspeksi
    Paru hiperinflasi, ekspansi dada berkurang, kesukaran inspirasi, dada berbentuk barrel chest, dada anterior menonjol, punggung berbentuk kifosis dorsal.
    2.    Palpasi
    Ruang antar iga melebar, taktik vocal fremitus menurun.
    3.    Perkusi 
    Terdengar hipersonor, peningkatan diameter dada anterior posterior.
    4.    Auskultasi
    Suara napas berkurang, ronkhi bisa terdengar apabila ada dahak
  • Review of System

1. Pernafasan

      Bentuk dada : barrel chest

      Pola nafas : tidak teratur

      Suara napas : mengi

      Batuk : ya, ada sekret

      Retraksi otot bantu napas : ada

      Alat bantu pernapasan : O2 masker 6 lpm

2. Kardiovaskular

Irama jantung : regular; S1,S2 tunggal.

Nyeri dada : ada, skala 6

Akral : lembab

Tekanan darah: 130/80 mmHg (hipertensi)

Saturasi Hb O2 : hipoksia

3. Persyarafan

Keluhan pusing (-)

Gangguan tidur (-)

4. Perkemihan

Kebersihan : normal

Bentuk alat kelamin : normal

Uretra : normal

5. Pencernaan

Nafsu makan : anoreksi disertai mual

BB : menurun

Porsi makan : tidak habis, 3 kali sehari

Mulut : bersih

Mukosa : lembab

 

6. Muskuloskeletal/integument

Turgor kulit : Berkeringat

Massa otot : menurun

7. Pengkajian Psikologi dan Spiritual

Klien kooperatif, tetap  rajin beribadah dan memohon agar penyakitnya bisa disembuhkan.

  • Pemeriksaan Penunjang

a) Sinar x dada: Xray tanggal 12 November dengan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).

Kesimpulan : emfisema paru.

b)  pO2 : 75 mmHg (↓)

c) pCO2 : 50 mmHg (↑

d)       SO3 : 100%

b. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi.
2. Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir, bronkokonstriksi, dan iritan jalan napas.
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sekret.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen.

c. Intervensi

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi.

Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas.

Intervensi :
1) Berikan bronkodilator sesuai yang diresepkan.
2) Evaluasi tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB.
3) Instruksikan dan berikan dorongan pada pasien pada pernapasan diafragmatik dan batuk efektif.
4) Berikan oksigen dengan metode yang diharuskan.

Rasional:
1) Bronkodilator mendilatasi jalan napas dan membantu melawan edema mukosa bronchial dan spasme muscular.
2) Mengkombinasikan medikasi dengan aerosolized bronkodsilator nebulisasi biasanya digunakan untuk mengendalikan bronkokonstriksi.
3) Teknik ini memperbaiki ventilasi dengan membuka jalan napas dan membersihkan jalan napas dari sputum. Pertukaran gas diperbaiki.
4) Oksigen akan memperbaiki hipoksemia.
Evaluasi:
© Mengungkapkan pentingnya bronkodilator.
© Melaporkan penurunan dispnea.
© Menunjukkan perbaikan dalam laju aliran ekspirasi.
© Menunjukkan gas-gas darah arteri yang normal.

2. Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir, bronkokonstriksi, dan iritan jalan napas.
Tujuan : perbaikan dalam pola pernapasan.

Intervensi :
1) Ajarkan pasien pernapasan diafragmatik dan pernapasan bibir dirapatkan.
2) Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat.
3) Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernapasan jika diharuskan.

Rasional :
1) Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernapas lebih efisien dan efektif.
2) Memberikan jeda aktivias akan memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.
3) Menguatkan dan mengkoordinasiakn otot-otot pernapasan.

Evaluasi :
© Melatih pernapasan bibir dirapatkan dan diafragmatik serta menggunakannya ketika sesak napas dan saat melakukan aktivitas.
© Memperlihatkan tanda-tanda penurunan upaya bernapas dan membuat jarak dalam aktivitas.
© Menggunakan pelatihan otot-otot inspirasi, seperti yang diharuskan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

    Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah sebagai berikut :

Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya. Gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.

Terdapat 3 (tiga) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru : PLE (Panlobular Emphysema/panacinar), CLE (Sentrilobular Emphysema/sentroacinar), Emfisema Paraseptal.

Asuhan keperawatan pada penderita emfisema secara garis besar adalah membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen klien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baughman,D.C& Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001

Mills,John& Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru.Jakarta : EGC

Perhimpunan Dokter Sepesialis Penyakit Dalam Indonesia. Editor Kepela : Prof.Dr.H.Slamet Suryono Spd,KE

Soemarto,R.1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya : RSUD Dr.Soetomo

 

 

 

askep empiema

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Empiema merupakan salah satu penyakit yang sudah lama ditemukan dan berat. Saat ini terdapat 6500 penderita di USA dan UK yang menderita empiema dan efusi parapneumonia tiap tahun, dengan mortalitas sebanyak 20% dan menghabiskan dana rumah sakit sebesar 500 juta dolar. Di Indonesia terdapat 5 – 10% kasus anak dengan empiema toraks. Empiema toraks didefinisikan sebagai suatu infeksi pada ruang pleura yang berhubungan dengan pembentukan cairan yang kental dan purulen baik terlokalisasi atau bebas dalam ruang pleura yang disebabkan karena adanya dead space, media biakan pada cairan pleura dan inokulasi bakteri.

Empiema juga dapat terjadi akibat dari keadaan keadaan seperti septikemia, sepsis, tromboflebitis, pneumotoraks spontan, mediastinitis, atau ruptur esofagus. Infeksi ruang pleura turut mengambil peran pada terjadinya empiema sejak jaman kuno. Aristoteles menemukan peningkatan angka kesakitan dan kematian berhubungan dengan empiema dan menggambarkan adanya drainase cairan pleura setelah dilakukan insisi. sebagian dari terapi empiema masih diterapkan dalam pengobatan modern. Dalam tulisan yang dibuat pada tahun 1901 yang berjudul The Principles and Practice of Medicine, William Osler, mengemukakan bahwa sebaiknya empiema ditangani selayaknya abses pada umumnya yakni insisi dan penyaliran.

Melakukan asuhan keperawatan (askep) pada pasien dengan Empiema merupakan aspek legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang perawat profesional di dorong untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat menentukan kualitas “asuhan keperawatan” (askep) yang diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional dalam pelayanan pasien gangguan hisprung. Pemberian asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perawat khususnya.

 

 

 

 

 

 

  1. Tujuan
  • Tujuan umum

Untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan ampiema

  • Tujuan khusus
    • Untuk mengetahui pengkajian pada klien ampiema
    • Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada klien ampiema
    • Untuk mengetahui intervensi pada klien ampiema
    • Untuk mengetahui implementasi  pada klien ampiema
    • Untuk mengetahui evaluasi pada klien ampiema

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. Tinjauan Teoritis
  1. Definisi

Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga pleura. Awalnya rongga pleura adalah cairan encer dengan jumlah leukosit rendah, tetapi sering kali berlanjut menjadi  yang kental. Hal ini dapat terjadi jika abses paru-paru meluas sampai rongga pleura. Empiema juga di artikan,akumulasi pus diantara paru dan membran yang menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Pus ini berisi sel sel darah putih yang berperan untuk melawan agen infeksi (sel sel polimorfonuklear) dan juga berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan (fibrin). ). Ketika pus terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada paru sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring dengan berlanjutnya perjalanan penyakit maka fibrin-fibrin tersebut akan memisahkan pleura menjadi kantong kantong (lokulasi). Pembentukan jaringan parut dapat membuat sebagian paru tertarik dan akhirnya mengakibatkan kerusakan yang permanen. Empiema biasanya merupakan komplikasi dari infeksi paru (pneumonia) atau kantong kantong pus yang terlokalisasi (abses) dalam paru. Meskipun empiema sering kali merupakan dari infeksi pulmonal, tetapi dapat juga terjadi jika pengobatan yang terlambat.

  1. Etiologi

1. Stapilococcus

Staphylococcus adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab dikenal  sebagai Staph, yang dapat menyebabkan banyak penyakit-penyakit sebagai akibat dari infeksi beragam jaringan-jaringan tubuh. Bakteri-bakteri Staph dapat menyebabkan penyakit tidak hanya secara langsung oleh infeksi (seperti pada kulit), namun juga secara tidak langsung dengan menghasilkan racun-racun yang bertanggung jawab untuk keracunan makanan dan toxic shock syndrome. Penyakit yang berhubungan dengan Staph dapat mencakup dari ringan dan tidak memerlukan perawatan sampa berat/parah dan berpotensi fatal.

2. Pnemococcus

Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius seperti radang paru-paru (pneumonia), ,meningitis (radang selaput otak) dan infeksi darah (sepsis).

Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokus, tetapi hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.

  1. Gejala Klinis

Dibagi menjadi doa stadium yaitu:

1. Empiema Akut

Gejala mirip Artikel Baru pneumonia yaitu Panas Tinggi, Nyeri pleuritik, apabila stadium inisial dibiarkan Dalam, beberapa Minggu Akan Timbul toksemia, anemia, jaringan tubuh PADA. Acute nanah tidak segera dikeluarkan Akan Timbul fistel bronchopleura Dan empiema neccesitasis.

2. Empiema kronik

Batasan Yang Tegas ANTARA Akut Dan kronis sukar ditentukan disebut kronis apabila terjadi lebih bahasa Dari 3 month. Penderita mengelub badannya Lemah, Kesehatan penderita Tampak mundur, pucat PADA jari tubuh.

  1. Klasifikasi
  • Fase eksudatif terjadi sebagai reaksi terhadap inflamasi dan infeksi, dan ni ditandai dengan efusi pleura eksudatif.
  • Fase fibrinoporulen ditandai khas dengan adanya nanah intrapleura dan deposisi fibrin pada permukaan ppleura. Cairan akan lebih mengental dan cenderung akan mengadakan lukolasi. Paru-paru menjadi terfixer.
  • Fase organisasi ditandai khas dengan perlekatan paru-paru dan terjadinya paru-paru reskriktif karena terbentuknya jaringan fibroblastik.sequela yang sering terjadi adlah fisula bronchopleura dan pleurocutancus.
  1. Patofisiologi

Akibat invasi basil piogenik ke pleura, maka akan timbul peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan banyaknya sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya endapan-endapan fibrin akan membentuk kantung-kantung yang melokalisasi nanah tersebut. Apabila nanah menembus bronkus maka timbul fistel bronkopleura, atau apabila menembus dinding toraks dan keluar melalui kulit maka disebut empiema nessensiatis. Stadium ini masih disebut empiema akut yang lama kelamaan akan menjadi kronis.

  1. Penatalaksanaan
  • Ø Penatalaksanaan keperawatan

1. Pengkajian data Dasar

• Riwayat / adanya faktor-faktor penunjang

Merokok, terpapar polusi Udara Yang Kendaraan bermotor, Riwayat alergi PADA Keluarga

• Riwayat Yang dapat mencetuskan

Eksaserbasi seperti: alergen (Debu, SERBUK kulit, SERBUK sari, jamur)

Stres emosional, aktivitas fisik berlebihan

Infeksi kandung Nafas

Drop out pengobatan

• Pemeriksaan Fisik

¶ Manifestasi Klasik bahasa Dari PPOM

Peningkatan dispnea

Retraksi otot-ot \ perut ot, menganngkat Bahu SAAT Inspirasi, pernafasan cuping Hidung (penggunaan otot pernafasan aksesories)

Penurunan Bunyi Nafas

Tachipnea, ortopnea

  • Ø Penatalaksanaan medis

Prinsip pengobatan Empiema adalah sebagai berikut :

a.       Pengosongan nanah

Dilakukan pada abses untuk mencegah efek toksiknya.

1.      Closed drainase-tube toracostorry water sealed drainase dengan indikasi  :

  Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi

  Nanah terus terbentuk setelah dua minggu

  Terjadinya Piopneumothorak

WSD dapat juga dibantu dengan penghisapan negatif sebesar 10-20 cmH2O.Jika setelah 3-4 minggu tidak ada kemajuan, harus ditempuh cara lain seperti pada empiema kronis.

2.      Drainase terbuka (open drainage)

Dilakukan dengan menggunakan kateter karet yang besar, oleh karena disertai juga dengan reseksi tulang iga.Open drainage ini dikerjakan pada empiema kronis,hal ini bisa terjadiakibat pengobatan yang lambat atau tidak adekuat,misalnya aspirasi yang terlambat/ tidak adekuat, drainase tidak adekuat atau harus sering mengganti/ membersihkan drain.

b.      Antibiotik

Antibiotik harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkan dan dosisnya harus adekuat. Pemilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan gram dan apusan nanah.Pengobatan selanjutnya bergantung pada hasil kultur dan sensivitasnya.Antibiotika dapat diberikan secara sistematik atau topikal.Biasanya diberikan Penicillin.

c.       Penutupan rongga Empiema

Pada empiema menahun seringkali rongga empiema tidak menutup karena penebalan dan kekakuan pleura.Pada keadaan demikian dilakukan pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti.

 

1.      Dekortikasi

Tindakan ini termasuk operasi besar, dilakukan dengan indikasi :

        Drain tidak berjalan baik karena banyak kantong-kantong.

        Letak empiema sukar dicapai oleh drain.

        Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura viseralis.

2.      Torakplasti

Alternatif torakplasti diambil jika empiema tidak kunjung sembuh karena adanya fistel bronkopleural atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi.Pada pembedahan ini segmen tulang iga dipotong subperiosteal.Dengan demikian dinding thorak jatuh kedalam rongga pleura karena tekanan atmosfir.

d.      Pengobatan kausal

Misalnya pada subfrenik abses dengan drainase subdiafragmatika, terapi spesifik pada amoebiasis dan sebagainya.

e.       Pengobatan tambahan

Perbaiki keadaan umum, fisioterapi untuk membebaskan jalan nafas.

 

Penanggulangan empiema tergantung dari fase empiema, yaitu :

1.      Fase I (Fase Eksudat)

Dilakukan drainase tertutup (WSD) dan dengan WSD dapat dicapai tujuan diagnostik terapi dan prevensi, diharapkan dengan pengeluaran cairan tersebut dapat dicapai pengembangan paru yang sempurna.

2.      Fase II (Fase Fibropurulen)

Pada fase ini penanggulangan harus lebih agresif lagi yaitu dilakukan drainase terbuka (reseksi iga/ “open window”) . Dengan cara ini nanah yang ada dapat dikeluarkan dan perawatan luka dapat dipertahankan. Drainase terbuka juga bertujuan untuk menunggu keadaan pasien lebih baik dan proses infeksi lebih tenang sehingga intervensi bedah yang lebih besar dapat dilakukan. Pada fase II  ini VATS surgery sangat bermanfaat, dengan cara ini dapat dilakukan empiemektomi dan/ atau dekortikasi.

3.      Fase III (Fase Organisasi)

Dilakukan intervensi bedah berupa dekortikasi agar paru bebas mengembang atau dilakukan obliterasi rongga empiema dengan cara dinding dada dikolapskan (Torakoplasti) dengan mengangkat iga-iga sesuai dengan besarnya rongga empiema, dapat juga rongga empiema disumpel dengan periosteum tulang iga bagian dalam dan otot interkostans (air plombage), dan disumpel dengan otot atau omentum (muscle plombage atau omental plombage).

 

 

 

  1. Komplikasi

Kemungkinan komplikasi yang terjadi adalah pengentalan pada pleura. Jika inflamasi telah berlangsung lama, eksudat dapat terjadi di atas paru yang menganggu ekspansi normal paru. Dalam keadaan ini diperlukan pembuangan eksudat melalui tindakan bedah (dekortasi). Selang drainase dibiarkan ditempatnya sampai pus yang mengisi ruang pleural dipantau melalui rontgen dada dan pasien harus diberitahu bahwa pengobatan ini dapat membutuhkan waktu lama.

  1. Askep Teoritis
  1. Pengkajiaan
  • Riwayat penyakit sebelumnya

Klien dengan riwayat penyakit masa lalu yang berkaitan dengan riwayat penyakit saat ini  misalnya batuk yang lama dan tidak sembuh sembuh akibat infeksi.

  • Riwayat keluarga

Riwayat penyakit keluarga, misalnya asma ( genetik ) memeiliki peluang besar untuk terserang empiema

  • Riwayat lingkungan

Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman padat, ventilasi rumah yang kurang juga berperan dalam memperburuk keadaan klien dengan empiema.

  • OBSERVASI
    • Keadaan umum
    • Suhu
    • Nadi
    • Tekanan darah
    • Pernafasan
    • Pemeriksaan Fisik

§  Demam tinggi dan menggigil (awitan tiba-tiba atau berbahaya).

§  Nyeri dada pleuritik

§  Takipnea dan takikardi

§  mikoplasma, viral dan stafilokokus akan terlihat infiltrat kemerahan.

§  Kultur sputum menunjukkan adanya bakteri

§  Sinar X menunjukkan konsolidasi lobar pada pasien dengan pneumonia pneumokokus, legionella, klebsiela, dan H.Influenza dan pada pneumonia

§  Pewarnaan garam jika infeksi disebabkan oleh bakteri gram negatif atau gram posistif.

§  Bronkoskopi

 

  • Pemeriksaan penunjang

a)  foto thorak

b)  kultur darah

c)  USG

d)  Sampel sputum

e)  Torakosenstesis

f)    Pemeriksaan cairan Pleura

g)   Hitung sel darah dan deferensiasi

h)   Protein, LDH, glucose, dan pH

i)     Kultur bakteri aerob dan an aerob, mikobakteri, fungi dan mikoplasma

 

  1. Diagnosa Keperawatan
  • Gangguan pertukaran gas akibat  kerusakan alveoli.
  • Bersihan  jalan  nafas  tidak efektif  berhubungan dengan peningkatan produksi  sekret.
  • Intoleransi aktivitas berhubungan  dengan  ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
  • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu, kelemahan, anoreksia.
  • Kurangnya  pengetahuan, tentang kondisi, pengobatan,  pencegahan, berhubungan  dengan  kurangnya   informasi atau tidak mengenal   sumber   individu.

 

 

 

  1. Intervensi

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi secret, kelemahan.

Tujuan                : Bersihan jalan nafas menjadi efektif

Kriteria Hasil      : 1.  Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas,         misal batuk efektif  dan mengeluarkan sekret.

2. tidak ada ronchi

3. tidak ada wheezing

Intervensi

Rasional

1.Bantu klien latihan nafas dalam dengan keadaan semifowler. Tunjukkan cara batuk efektif dengan cara menekan dada dan batuk .

2.Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/ hari ( kecuali kontra indikasi ) tawarkan yang hangat dari pada dingin.

3.Berikan obat sesuai indikasi ( Mukolitik, ekspektoran, bronkodilator).

4.Auskultasi adanya bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti wheezing, ronchi.

5.Observasi batuk dan sekret.

1.Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru atau jalan lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas yang alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat.

2.Cairan ( khususnya yang hangat ) memobilisasi dan mengeluarkan sekret.

3.Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.

4.Bunyi nafas menurun atau tak ada bila jalan nafas obstruksi terhadap kolaps jalan nafas kecil. ronchi  dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas.

5.Kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering. Sputum darah dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu, kelemahan, anoreksia.

Tujuan                     : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

Kriteria Hasil             : a. Nafsu makan meningkat

                                 b. BB meningkat atau normal sesuai umur

 

Intervensi

Rasional

  1. Mendiskusikan dan menjelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin).
  2. Menciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat.
  3. Memberikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan.
  4. Memonitor  intake dan out put dalam 24 jam.
  5. Berkolaborasi dengan tim kesehtaan lain :

a.Terapi gizi : Diet TKTP    rendah serat, susu

b.Obat-obatan atau vitamin

 

 

  1. Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
  2. Situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
  3. Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan.
  4. Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
  5. Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENUTUP

 

Kesimpulan

   Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga pleura. Awalnya rongga pleura adalah cairan encer dengan jumlah leukosit rendah, tetapi sering kali berlanjut menjadi  yang kental. Hal ini dapat terjadi jika abses paru-paru meluas sampai rongga pleura. Empiema biasanya merupakan komplikasi dari infeksi paru (pneumonia) atau kantong kantong pus yang terlokalisasi (abses) dalam paru. Meskipun empiema sering kali merupakan dari infeksi pulmonal, tetapi dapat juga terjadi jika pengobatan yang terlambat.

Empiema sendiri diklasifikasikan menjadi Empiema akut dan Empiema kronis. Bisa disebabkan oleh bakteri Stapilococcus, Pnemococcus, Streptococcus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Muhammad dkk.1989.Ilmu Penyakit Paru.Surabaya: Airlangga University Press

Somantri, Irman.2008.Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan.Jakarta:Salemba Medika.

Price, Sylvia A.1995.Patofisiologi:Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Ed4.Jakarta : EGC.

makalah asertif

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990)  Stresterhim dan Boer (1980), mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari oroentasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

  1. Tujuan
  1. Tujuan Umum

Makalah ini bertujuan untuk agar penulis dan pembaca dapat mengerti dengan perilaku asertif.

  1. Tujuan Khusus

Agar penulis dan pembaca dapat menjelaskan tentang:

a)      Perbedaan antara perilaku pasif, agresif, dan asertif.

b)      Teknik-teknik asertif

c)      Unsur-unsur asertif

d)     Ciri-ciri asertif

e)      Petunjuk menjadi asertif

BAB II

ISI

  1. A.    Pengertian

Ketegasan berasal dari kata dasar tegas, yang dalam kamus Bahasa Indonesia berarti; nyata, jelas dan terang benar, tentu tidak ragu lagi, tidak bimbang lagi, tidak samarsamar, menerangkan, mengatakan dengan pasti, kejelasan, kepastian, dengan kata lain ketegasan diri merupakan sebuah sikap terhadap sesuatu hal yang tidak ragu lagi dan penuh pertimbangan (telah dipikirkan dengan matang) dengan resiko yang akan diperoleh.

Assertivitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu “assert” yang berarti menyatakan, menegaskan, menuntut dan memaksa (Anne Rachmawati, 2007:32). Menurut kamus Webster Third International kata kerja “assert” berarti menyatakan atau bersikap positif, yakni berterus terang atau tegas. To assert dapat juga berarti menyatakan dengan sopan dan manis serta hal-hal lain yang menyenangkan diri sendiri. Assertion artinya pernyataan yang tegas. Dalam kamus KBBI, tegas diartikan sebagai tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar lagi).

John Milton Dillard (1985 : 184) mengemukakan bahwa “assertive behavior simply means expressing feeling, belief, and preferences in a way that is direct and proprieta”,

sedangkan Arthur J. Lange and Patricia Jakubowsky (1985 : 132), mengartikan asertif sebagai “assertion involves standing up a personal rights and expressing thought, feeling and belief in direct, honest and appropriate ways which do not violate person rights”.

Sementara itu Joseph Wolpe (Festerhem and Bear, 1995 : 22) mendefinisikan perilaku asertif sebagai perilaku individu yang penuh keyakinan diri. Artinya pernyataan yang tepat dari setiap emosi daripada kecemasan terhadap orang lain.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas dapat dikatakan bahwa sikap asertif adalah perasaan dan pikiran yang diungkapkan seseorang secara langsung melalui ekspresi verbal yang jujur dan merupakan proses penegasan hak diri sendiri (Anne Rachmawati, 2007 : 33).

 

  1. B.     Teknik-Teknik Asertif

a)      Memberikan Umpan Balik

Membiarkan orang lain tahu bagaimana Anda merespon perilaku mereka dapat membantu menghindari kesalah pahaman dan membantu menyelesaikan konflik yang tidak dapat dihindari dalam suatu hubungan. Bagaimanapun, memberikan umpan balik yang jujur ketika Anda mendapat reaksi negatif karena perilaku orang lain memang sulit dilakukan tanpa menyakiti perasaan. Sering kali, untuk memperbaiki hubungan Anda dalam jangka panjang, Anda harus menyatakan bahwa Anda kecewa pada apa yang mereka telah lakukan. Ketika Anda memilih untuk menyampaikan umpan balik negatif kepada orang lain, gunakan teknik komunikasi yang tidak berkesan mengancam. Kriteria untuk umpan balik yang bermanfaat termasuk:

1)      Umpan balik difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya.

Dengan memfokuskan pada perilaku, Anda mengarahkan umpan balik kepada sesuatu yang dapat diubah oleh seorang individu.

2)      Umpan balik bersifat deskriptif bukan evaluatif.

Menjelaskan apa yang telah dikatakan atau dilakukan berkesan lebih tidak mengancam dibandingkan dengan menghakimi mengapa sesuatu dilakukan (yang hanya berdasarkan asumsi Anda).

3)      Umpan balik berfokus pada reaksi Anda sendiri bukan maksud orang lain.

Menyalahkan atau menganggap ada maksud buruk dibalik perilaku orang lain bukan merupakan umpan balik yang konstruktif. Umpan balik menggunakan kata “saya” dengan bentuk kalimat “Ketika kamu [lakukan atau katakan]___saya merasa___.” Sebagai contoh, “Ketika kamu terlambat datang kerja, saya merasa frustasi dan marah” adalah lebih baik daripada “Kamu tidak bertanggungjawab. Kamu tidak peduli pada pasien yang menunggu dan pekerja lain yang menggantikanmu ketika kau telat”.

4)      Umpan balik bersifat spesifik bukan umum.

Umpan balik fokus pada perilaku yang baru saja terjadi dan menghindari mengungkit perilaku di masa lalu. Umpan balik juga tidak boleh menyamaratakan atau terlalu jauh dari peristiwa spesifik yang telah membuat Anda kesal (misalnya “Kamu selalu melakukan )

5)      Umpan balik difokuskan pada penyelesaian masalah.

Bukan bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan suatu masalah yang timbul pada suatu hubungan sehingga hubungan tersebut dapat berkembang lebih baik.

6)      Umpan balik disampaikan secara pribadi.

b)     Meminta Umpan Balik Dari Orang Lain

Seperti telah dijelaskan di atas, kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat. Pada saat yang bersamaan, kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita. Sebagai contoh, sebagai seorang perawat, Anda harus menilai kepuasan pasien secara rutin dan meminta umpan balik mengenai pelayanan Anda. Sebagai manajer, Anda harus membiarkan para pekerja tahu bahwa Anda menerima saran dari mereka mengenai bagaimana mengembangkan operasional di rumah sakit (tempat kerja). Kemampuan Anda untuk mendengar kritik atau saran tanpa sikap defensif atau marah, mengakui ketika Anda berbuat kesalahan, dan mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik (meskipun hal itu negatif) akan membuat orang lain jujur saat berkomunikasi dengan Anda. Mereka juga membantu Anda untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada praktek profesional Anda yang mungkin perlu perbaikan dan membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

c)      Menentukan Batasan

Bertindak asertif dengan menentukan batasan tidak berarti bahwa Anda berhenti berkata “ya” terhadap semua permintaan. Anda akan tetap membantu orang lain, karena adanya nilai-nilai yang Anda pegang dan keinginan Anda untuk membantu orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan, meskipun ketika melakukannya Anda mungkin merasa tidak nyaman. Ketika menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah menentukan seberapa jauh Anda mau memenuhi permintaan tersebut. Jika Anda perlu waktu untuk mengambil keputusan, menunda keputusan adalah tindakan yang tepat asalkan Anda kembali ke orang tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Seringkali respon tidak selalu berarti “ya” atau “tidak” tetapi bisa juga berupa tawaran untuk memenuhi sebagian dari permintaan. Berkata “tidak” atau menentukan batasan mungkin sulit jika Anda yakin bahwa orang tersebut harusnya tahu bahwa Anda memiliki alasan yang tepat untuk berkata “tidak”.

d)     Membuat Permintaan

Meminta sesuatu yang anda inginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada hubungan yang sehat. Jika anda berada pada posisi manajemen, menyatakan dengan jelas apa yang anda harapkan dari orang lain adalah suatu bagian penting untuk mencapai tujuan organisasi. Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan, termasuk meminta pertolongan, adalah suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus percaya bahwa orang lain akan dapat merespon permintaan kita secara asertif, termasuk berkata “tidak”. Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif.

e)      Berlaku Persisten

     Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hak-hak Anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata “tidak’, kemudian orang-orang tersebut akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita mengulangi lagi menyatakan keputusan kita dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon ini, mengulangi menyatakan keputusan tadi dengan santai, sering disebut sebagai respon “kaset rusak” (Smith, 1975). Respon seperti ini akan menghentikan, bahkan orang yang paling manipulatif, tanpa menimbulkan rasa bersalah atau meningkatkan konflik.

f)       Membingkai Kembali

Bingkai adalah “jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal” (Kaufman et al, 2003). Teknik pembingkaian kembali (reframing) yang dijelaskan oleh Kaufman dkk termasuk:

1)      Fokus pada membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok/set tujuan yang terbatas.

2)      Menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain.

3)      Menentukan di mana kesamaan pandangan/tujuan. Mencari hal-hal yang samasamadisetujui dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif  jangka panjang.

4)      Mengenali kesempatan untuk mencari solusi-solusi yang belum dieksplorasi/ dipikirkan lebih mendalam dan kesempatan-kesempatan yang dapat saling ditawarkan (trade-off) atau kompromi-kompromi.

5)      Terakhir, mengenali perbedaaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang bersamaan mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi konflik.

g)      Mengabaikan Provokasi

Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk “menang” dengan cara menghina atau mengintimidasi orang lain. Sebagai contoh, pasien yang marah atau merasa putus asa mungkin menyerang dengan serangan personal. Farmasis  yang merasa dikritik secara tidak adil mungkin merespon dengan sikap agresif atau sarkastik. Konflik interpersonal antara profesional-profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi (sering disebut “perang kartu kunci/turf battle”). Mengabaikan komentar yang bersifat mencela dari orang lain dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat ke arah yang dapat merusak hubungan.

h)     Merespon Kritik

Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur karena kita biasanya memegang dua keyakinan irasional yang umum:

1)      Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal,

2)      Bahwa kita harus benarbenar kompeten/mampu dalam segala hal yang kita lakukan tanpa pernah melakukan kesalahan. Karena standar perfeksionis seperti itu tidak mungkin dicapai, kita secara terus menerus menghadapi perasaan gagal atau tidak berguna. Pada beberapa kasus, kita mungkin mempunyai keinginan untuk “membalas dendam” dengan melakukan serangan balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu-satunya untuk meniadakan perasaan seperti itu dan untuk mulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.

  1. C.    Unsur-Unsur Asertif

a)      Terbuka dan jelas

Upayakan berkomunikasi secara jelas dan spesifik.

b)      Langsung

Berbicara langsung dengan subyek yang bersangkutan, jangan membawa masalah ke orang lain yang tidak berhubungan.

c)      Jujur

Berkata jujur agar dapat dipercaya

d)      Tepat dalam bersikap

Pastikan memperhitungkan nilai sosial dalam berbicara.

e)      Tanyakan umpan balik

Menanyakan umpan balik menjadi bukti bahwa anda lebih mengutarakan pendapat daripada perintah.

  1. D.      Ciri-Ciri Asetif

a)      Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain.

b)      Mendengarkan pendapat orang lain dan memahaminya.

c)      Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain.

d)      Mencari solusi bersama dan keputusan.

e)      Menghargai diri sendiri dan orang lain dan mampu mengatasi konflik.

f)       Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati.

g)      Mempertahankan hak diri

  1. E.     Cara Bersikap Asertif

Menurut Bourne, (1995), untu menjadi individu yang asertif dibutuhkan strategi, sebagai berikut:

1)      Evaluasi terhadap hak-hak pribadi.

Tentukan apa yang menjadi hak anda dalam situasi yang sedang dihadapi. Misalnya, Anda berhak membuat kesalahan dan mengubah pikiran anda.

2)      Mengemukakan problem dan konsekuensinya kepada orang yang terlibat dalam konflik.

 Deskripsikan problem seobjektif mungkin tanpa menyalahkan atau menghakimi, denganmenjelaskan sudut pandang anda.

3)      Mengekspresikan perasaan tentang situasi tertentu.

Ketika anda menyatakan perasaan anda, bahkan orang yang tidak setuju dengan anda sekalipun akan bisa mengerti perasaan anda tentang situasi itu. Ingat, gunakan pesan “aku” bukan pesan “kamu”.

4)      Mengemukakan apa yang menjadi permintaan.

Ini adalah aspek penting dari bersikap asertif. Kemukakan keinginan anda atau yang tidak anda inginkan secara langsung.

  1. F.     formulaAsertif

1)      Appreciation.

Dengan cepat dan tanggap memberikan penghargaan dan rasa hormat terhadap kehadiran orang lain sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka tanpa menunggu mereka untuk lebih dahulu memperhatikan, memahami, menghormati dan menghargai kita.

2)      Acceptance

Adalah perasaan mau menerima, memberikan arti sangat positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang, yaitu menjadi pribadi yang terbuka dan dapat menerima orang lain sebagaimana keberadaan diri mereka masing-masing. Dalam hal ini, kita tidak memiliki tuntutan berlebihan terhadap perubahan sikap atau perilaku orang lain (kecuali yang negatif) agar ia mau berhubungan dengan mereka. Tidak memilih-milih orang dalam berhubungan, dengan tidak membatasi diri hanya pada keselarasan tingkat pendidikan, status sosial, suku, agama, keturunan, dan latar belakang lainnya.

3)      Accomodating.

Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali, merupakan perilaku yang sangat positif. Keramahan senantiasa memberikan kesan positif dan menyenangkan kepada semua orang yang kita jumpai. Keramahan membuat hati kita senantiasa terbuka, yang dapat mengarahkan kita untuk bersikap akomodatif terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi, tanpa meninggalkan kepribadian kita sendiri

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

                  Terdapat beberapa teknik komunikasi atau strategi yang berguna dalam menanggapi situasi yang cenderung menjadi konflik. Diantaranya yaitu;memberikan umpan balik, meminta umpan balik dari orang lain, menentukan batasan, membuat permintaan, berlaku persisten, membingkai kembali, mengabaikan profokasi, dan merespon kritik.

                  Dalam komunikasi asertif dibutuhkan beberapa unsure, yaitu: terbuka dan jelas, langsung, jujur, tepat dalam bersikap, dan tanyakan umpan balik.

                  Komunikasi sertif memiliki ciri-ciriterbuka dan jujur, mau mendengarkan, memberi pendapat, mencari solusi, saling menghargai, menyatakan perasaan pribadi, dan mempertahankan hak pribadi.

                  Untuk mencapai perilaku asertif di butuhkan petunjuk, yaitu: evaluasi terhadap hak-hak pribadi, mengemukakan problem dan konsekuensi konflik,mengekspresikan perasaan tetntang situasi, dan mengemukakan apa yang menjadi permintaan.

                  Formula-formula yang mendukung terjadinya erilaku asertif, yaitu: appreciation,acceptance, dan accommodating.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Anne Rachmawati, S. Pd. 2007. Efektifitas Program Bimbingan Sosial Pribadi dalam

Meningkatkan Assertivitas Remaja. Skripsi S1 FIP UPI Bandung. Tidak diterbitkan.

Chalhoun, James F dan Joan Ross Acocella. 1995. Self-Concept (terjemahan).

Semarang:IKIP Semarang Press.