askep pada anak dengan campak

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Dahulu, selama berabad-abad, campak ( rubeola, morbili ), merupakan penyakit menular masa kanak-kanak yang paling umum. Walaupun campak tidak umum lagi di Negara yang memberikan vaksin secara luas, tetapi ketimpangan antara Negara maju dan Negara lain yang kurang perawatan kesehatan untuk bayi dan anak sangat mencolok. UNICEF memperkirakan lebih dari 1 juta kematian setahun disebabkan oleh campak dan komplikasinya pada anak di Negara berkembang di seluruh dunia.

Menurut data SKRT  ( 1996 ) insiden campak pada balita sebesar 528/10.000. angka tersebut jauh lebih rendah disbanding tahun 1982 sebelum program imunisasi campak dimulai, yaitu 8000/10.000 pada anak umur 1-15 tahun. Imunisasi merupakan salah satu upaya terbaik untuk menurunkan insiden campak. Sebagai dampak program imunisasi tersebut insiden campak cenderung turun pada ssemua umur. Pada bayi ( < 1 tahun ) dan anak umur 1-4 tahun terjadi penurunan cukup tajam, sedangkan pada golongan umur 5-14 tahun relative landai.

Saat ini programpemberantasan penyakit campak dalam tahap reduksi yaitu penurunan jumlah kasus dan kematian akibat campak, menyusul tahap eliminasi dan akhirnya tahap eradikasi. Diharapkan 10-15 tahun setelah tahap eliminasi, penyakit campak dapat dieradikasi, karena satu-satunya penjamunya adalah manusia.

  1. Tujuan
  • Tujuan umum

Agar mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit morbili atau camapak.

  • Tujuan khusus

ü  Agar mahasiswa mengetahui apa itu morbili

ü  Agar mahasiswa mengerti cara merawat pasien dengan morbili

ü  Agar mahasiswa dapat memberi asuhan keperawatan kepada klien dengan morbili sesuai dengan pendidikan yang didapatkan nya

BAB II TINJAUAN TEORITIS

  1. Definisi

Campak disebut juga Morbili. Campak merupakan penyakit yang sangat menular terutama menyerang anak-anak, walaupun pada beberapa kasus juga dapat menyerang orang dewasa. Pada anak-anak dengan keadaan gizi buruk ditemukan kejadian campak dengan komplikasi yang fatal atau berpotensi menyebabkan kematian.

Penyakit Campak adalah penyakit menular akut yang disebabkan virus Campak/ Rubella. Campak adalah penyakit infeksi menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien.

Virus ini terdapat dalam darah, air seni, dan cairan pada tenggorokan. Itulah yang membuat campak ditularkan melalui pernapasan, percikan cairan hidung ataupun ludah

  1. Etiologi

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Rubella, oleh karena itu campak juga sering disebut Demam Rubella. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orang-orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul.

  1. Tanda dan gejala

1. Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi, mendadak), batuk, pilek harus dicurigai atau di diagnosis banding morbili.

2. Mata merah, mukopurulen, menambah kecurigaan.

3. Dapat disertai diare dan muntah.

4. Dapat disertai dengan gejala perdarahan (pada kasus yang berat) : epistaksis, petekie, ekimosis.

5. Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili (1 atau 2 minggu sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi campak.

  1. Patofisiologi

Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet udara, menempel dan berbiak. Infeksi mulai saat orang yang rentan menghirup percikan mengandung virus dari secret nasofaring pasien campak. Di tempat masuk kuman, terjadi periode pendek perbanyakan virus local dan penyebaran terbatas, diikuti oleh viremia primer singkat bertiter rendah, yang memberikan kesempatan kepada agen untuk menyebar ketempat lain, tempat virus secara aktif memperbanyak diri di jaringan limfoid. Viremia sekunder yang memanjang terjadi, berkaitan dengan awitan prodromal klinis dan perluasan virus. Sejak saat itu  ( kira-kira 9 sampai 10 hari setelah terinfeksi ) sampai permulaan keluarnya ruam, virus dapat dideteksi di seluruh tubuh, terutama di traktus respiraturius dan jaringan limfoid. Virus juga dapat ditemukan di secret nasofaring, urine, dan darah.pasien paling mungkin menularkan pada orang lain dalam periode 5 sampai 6 hari. Dengan mulainya awitan ruam ( kira-kira 14 hari setelah infeksi awal ), perbanyakan virus berkurang dan pada 16 hari sulit menemukan virus, kecuali di urine, tempat virus bisa menetap selama beberapa hari lagi. Insiden bersamaan dengan munculnya eksantema adalah deteksi antibody campak yang beredar dalam serum yang ditemukan pada hampir 100% pasien dihari ke dua timbulnya ruam. Perbaikan gejala klinis dimulai saat ini, kecuali pada beberapa pasien, dimulai beberapa hari kemudian karena penyakit sekunder yang disebabkan oleh bakteri yang bermigrasi melintasi barisan sel epitel traktus respiraturius. Terjadi sinusitis, otitis media, bronkopneumonia sekunder akibat hilangnya pertahanan normal setempat.

Sebanyak 10% pasien memperlihatkan pleositosis dalam cairan serebrospinalis dan 50% memperlihatkan kelainan elektroensefalografi di puncak serangan penyakit. Namun, hanya 0,1% yang memperlihatkan gejala dan tanda ensefalomielitis. Beberapa hari setelah serangan akut, terlihat kelainan system saraf pusat, saat serum antibody berlimpah dan virus menular tidak lagi dapat dideteksi.hal ini diperkirakan ensefalitik autoimun. Pada pasien SSPE, hilangnya virus campak dari system saraf pusat beberapa tahun kemudian setelah infeksi campak primer menekankan perlunya penjelasan lebih lanjut tentang interaksi virus dengan system saraf pusat, baik secara akut maupun kronis. SSPE bisa disebut sebagai ensefalitis virus campak lambat.

Seorang wanita yang pernah menderita campak atau pernah mendapatkan imunisasi campak akan meneruskan daya imunitasnya pada bayi yang dikandungnya. Kekebalan ini akan bertahan selama satu tahun pertama setelah anak dilahirkan. Oleh karena itu, jarang sekali kita jumpai bayi ( khususnya yang berusia dibwah 5 bulan ) yang menderita campak. Seseorang yang pernah menderita campak akan menjadi kebal seumur hidupnya.

  1. Pemeriksaan diagnostik
    1. Serologi

Pada kasus atopic, dapat dilakukan pemeriksaan serologi untuk memastikannya. Tehnik pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah fiksasi complement, inhibisi hemaglutinasi, metode antibody fluoresensi tidak langsung.

  1. Patologi anatomi

Pada organ limfoid dijjumpai : hyperplasia folikuler yang nyata, senterum germinativum yang besar, sel Warthin-Finkeldey ( sel datia berinti banyak yang tersebar secara acak, sel ini memiliki nucleus eosinofilik dan jisim inklusi dalam sitoplasma, sel ini merupakan tanda patognomonik sampak ). Pada bercak koplik dijumpai : nekrosis, neutrofil, neovaskularisasi.

  1. Darah tepi

Jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri.

  1. Pemeriksaan antibody IgM anti campak.
  2. Pemeriksaan untuk komplikasi

Ensefalopati / ensefalitis ( dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar elektrolit darah dan analisis gas darah ), enteritis ( feces lengkap), bronkopneumonia ( dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah ).

  1. Pengobatan

. Campak tanpa Penyulit, cukup dengan:

  • • Rawat jalan
  • • Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori

Morbili merupakan suatu penyakit self-limiting, sehingga pengobatannya hanya bersifat symtomatik, yaitu : memperbaiki keadaan umum, antipiretik bila suhu tinggi parasetamol 7,5 – 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam – ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 – 100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari. – Antitusif perlu diberikan bila batuknya hebat/mengganggu, narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan. – Mukolitik bila perlu – Vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat.

Antibiotic diberikan bila ada infeksi sekunder. Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan kepada penderita morbili yang mengalami ensefalitis, yaitu:

  • o Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
  • o Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.

B. Campak dengan Penyulit :

– Menyingkirkan komplikasi

– Mengobati komplikasi bila ada

– Merujuk ke rumah sakit bila perlu

  1. Pencegahan

1) Cara yang paling efektif untuk mencegah anak dari penyakit campak adalah dengan memberikan imunisasi campak. Jika setelah mendapat imunisasi, anak terserang campak, maka perjalanan penyakit akan jauh lebih ringan. Imunisasi campak untuk bayi diberikan pada umur 9 bulan. Bisa pula imunisasi campuran, misalnya MMR (measles-mump-rubella), biasanya diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Disuntikkan pada otot paha atau lengan atas

2) Selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan anak sebelum makan.

Jika anak belum waktunya menerima imunisasi campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang lain yang sedang demam.

BAB III ASKEP TEORITIS

  1. Pengkajiaan anak

1. Riwayat keperawatan : riwayat iminusasi, kontak dengan orang yang terinfeksi.
2.     Pada pengkajian anak dengan campak dapat ditemukan adanya tanda¬-tanda:
a.    Demam
b.    Nyeri tenggorok
c.    Nafsu makan menurun
d.    Adanya bercak putih kelabu
e.    Kelemahan pada ekstremitas
f.    Batuk
g.    Konjungtivitis
h.    Eritema pada banan belakang telinga, leher dan bagian belakang
i.    Lemah, lesu
j.    Apabila terjadi komplikasi pada telinga dapat ditemukan adanya serumen atau cairan yang keluar dari telinga.
k.    Apabila pada bronkhus dapat menyebabkan bronkhopneumonia, terjadi masalah pernafasan.

  1. Diagnosa keperawatan
  2.  1.  Resiko infeksi berhubungan dengan organisme purulen.
    2.    Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang
    tertahan.
    3.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunitas
    4.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan.
    5.     Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan.
    6.    Nyeri akut berhubungan dengan keterbatasan agen injury.
  3. Intervensi

ü  Ganguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa gatal pada kulit

ü  Gangguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi virus

ü  Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan penurunan nafsu makan

  1. Implementasi

ü  Berikan bedak gatal pada anak saat rasa gatal

Rasional nya dapat mengurangi rasa gatal pada anak

ü  Berikan kompres hangat/ dingin pada saat suhu tubuh meningkat

Rasionalnya agar dapat menurunkan peningkatan suhu tubuh yang terjadi

ü  Berikan makanan pada anak selagi panas

rasionalnya agar nafsu makan anak meningkat dan kebutuhan nutrisi terpenuhi

  1. Evaluasi

ü  Rasa gatal pada anak berkurang

ü  Suhu tubuh pada anak sudah normal ( 36 derjat celcius )

ü  Cairan dan nutrisi terpenuhi

BAB IV PENUTUP

  Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan berbentuk makulo popular selama tiga hari atau lebih disertai panas badan 380c atau lebih dan disertai salah satu gejala batuk, pilek dan mata merah.

Keluhan yang umum muncul adalah kelerahan yang timbul pada bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar keseluruh tubuh. Selain itu, timbul gejala seperti flu disetai mata berair dan kemerahan ( konjungtivitis ). Setalah 3-4 hari kemerahan mulai menghilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh kulit akan tampak seperti bersisik.

Pada anak sehat dan cukup gizi, campak biasanya tidak menjadi masalah serius. Dengan istirahatyang cukup dan gizi yang baik, penyakit campak ( pada kasus ringan ) dapat sembuh dengan cepat tanpa menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Namun, bila anak dalam kondisi yang yang tidak sehat dapat menyebebkan kematian pada anak.

Pengobatan pada anak dengan campak dapat dilakukan secara simtomatik yaitu antipeiretika bila suhu tinggi, sedativum, obat batuk dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain adalah pengobatan segera terhadap komplikasi ayng timbul.

Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan dengan menberikan imunisasi campak pada balita usia 9 bulan ke atas ( imunisasi aktif ).

DAFTAR PUSTAKA

Copyright © 2003 gemari.or.id designed by Gemari Online. Campak Alias Morbili Oleh : Harun Riyanto

Kategori Info Penyakit . Campak (Measles)

http://m.okezone.com Jangan Anggap Remeh Campak

Coprright @2008 TEMPOinteraktif. Campak

Copyright @ indoskripsi. com launcehed at November 2007-200. Morbili Website hosting by Ide Bagus

Kapita Selekta kedokteran Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s