askep pada anak dengan diare

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

KKP adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein.

  1. Tujuan
  • Tujuan umum

Agar mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit diare

  • Tujuan khusus

ü  Agar mahasiswa mengetahui apa itu diare

ü  Agar mahasiswa mengerti cara merawat pasien dengan diare

ü  Agar mahasiswa dapat memberi asuhan keperawatan kepada klien dengan diare sesuai dengan pendidikan yang didapatkan nya

BAB II TINJAUAN TEORITIS

  1. Definisi
  • Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).
  • Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).
  •  Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).
  1. Etiologi
  • • Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).
    • Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).
  1. Tanda dan gejala

–          Meningkatnya suhu tubuh

–          Nyeri pada otot seluruh tubuh

–          Suara serak

–          Batuk

–          Epistaksis

–          Disuria

–          Nafsu makan menurun

–          Muntah

–          Ptekie

–          Ekimosis

–          Perdarahan gusi

–          Muntah darah

–          Hematuria masih

–          Melena

  1. Patofisiologi

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).

  1. Pemeriksaan diagnostik

1. Pemeriksaan Fisik

  • Mengukur TB dan BB

Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)

  • Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
  • Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).
    2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.
  1. Pengobatan
    1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
    2.  Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
    3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
    4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.

Penatalaksanaan penderita KKP yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.

  • cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.
  • Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
  • Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
  • Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.
  1. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan
  • Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.
  •  Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.
  • Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.
  1. Pencegahan

–          Rumah selalu terang

–          Tidak menggantung pakaian

–          Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali

–          Kubur barang – barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan

–          Tutup tempat penampungan air

BAB III ASKEP TEORITIS

  1. Pengkajiaan anak

ü  Kaji riwayat Keperawatan

ü  Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan , mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda – tanda renjatan  ( denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran )

  1. Diagnosa keperawatan
  2. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
  3. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
  4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
  5. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksivirus
  6. Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
  1. Intervensi
  2. Anak menunjukkan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
  3. Anak menunjukkan tanda – tanda perfusi jaringan perifer yang adekwat
  4. Anak menunjukkan tanda – tanda vital dalam batas normal
  5. Keluarga menunjukkan kekoping yang adaptif
  1. Implementasi
  2. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan

–          Mengobservasi tanda – tanda vital paling sedikit setiap 4 jam

–          Monitor tanda – tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun – ubun cekung, produktie urin menurun

–          Mengobservasi dan mencatat intake dan output

–          Memberikan hidrasi yang adekwat sesuai dengan kebutuhan tubuh

–          Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah BJ urin , serum tubuh

–          Mempertahankan intake dan output yang adekwat

–          Memonitor dan mencatat berat badan

–          Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam

–          Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat ( insesible water loss / IWL )

  1. Perfusi jaringan Adekwat

–          Mengkaji dan mencatat tanda – tanda Vital ( kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Cappilary Refill )

–          Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ektremitas ( suhu , kelembaban dan warna)

–          Menilai kemungkinan terjadinya kematian aringan pada ekstremitas seperti dingin , neri , pembengkakan kaki )

  1. Kebutuhan nutrisi adekwat

–          Ijinka anak memakan makanan yang dapa ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.

–          Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi

–          Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering

–          Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama

–          Mempertahankan kebersihan mulut pasien

–          Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekwat untuk penyembuhan penyakit

  1. Mempertahankan suhu tubuh normal

–          Ukur tanda – tanda vital suhu tubuh

–          Ajarkan keluarga dala pengukuran suhu

–          Lakukan “ tepid sponge”  ( seka ) dengan air biasa

–          Tingkatkan intake cairan

–          Berikan terapi untuk menurunkan suhu

  1. Mensupport koping keluarga Adaptif

–          mengkaji perasaan dn persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress

–          Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencmaskan keluarga

–          Identifikasikan koping yang biasa digunakan dn seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan

  1. Evaluasi

ü  Suhu tubuh anak normal (36,5)

ü  Keluarga mensupport dalam pengobatan sehingga pengobatan dapat berjalan dengan yang diinginkan

ü  Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan

Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori.

Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi congenital

Pencegahan

–          Rumah selalu terang

–          Tidak menggantung pakaian

–          Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali

–          Kubur barang – barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan

–          Tutup tempat penampungan air

DAFTAR PUSTAKA

Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.

Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995

Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s