askep tumor pada hidung

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Data dari depkes RI tahun 2003 bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan 25 dari 50 pnyakit peringgatan utama atau sekitar 102.817 penderita penyakit rawat jalan.

Insiden tertinggi tumor ganas yang ditemukan jepang yaitu 2/10.000 pendududk pertahun. Di bagin THT FKUI-RSCM keganasan inni ditemukan 10,1% dari seluruh tumor ganas THT. Resiko terkena laki-laki dan wanita yaitu 2:1.

Dari AS insiden tumor hidung tiap tahun berkurang dari 1:100.000 penduduk yang menyumbang 3% kankerdari salran nafas atas. Di Jpang dan Uganda penyakit ini 2x lebih tinggi dari pada AS.

  1. Tujuan
    • Tujuan Umum

Untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan tumor hidung.

  • Tujuan Khusus
    • Untuk mengetahui pengkajian pada pasien tumor rongga hidung
    • Untuk mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien tumor rongga hidung
    • Untuk mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien tumor rongga hidung
    • Untuk dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien tumor rongga hidung
    • Untuk dapat mengevaluasi pasien tumor rongga hidung.

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. Tinjauan Teoritis
  1. Definisi

Tumor hidung adalah pertumbuhan kearah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dan vestibulum nasi.

  1. Etiologi

Etiologi tumor hidung belum ditemukan, tetpi diduga beberapa zt hasil industri berupa nikel, debu kayu, formaldehid, kulit, kromium, dan lain-lain.pekerjaan di bidang seperti ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung.  

Alkohol, asap rokok, makanan yang di asinkan, atau di asap diduga bisa menyebabkan terjadinya tumor pada hidung. Sebaliknya buahbuahan dan sayuran menutup kemungkinan terjadinya tumor hidung.

Sekitar 55% tumor hidung dan sinis berasal dari sinus maxilary,35% dari kavum nsi,9%dari sinus ethmoid,1% dari sinus frontal,dan spenoid dari septum. Untuk tumor besar asal tumor sulit untuk di identifikasi.

Rahang atas merupakan satu dari sedikit lokasi di kepala dan leher dimana etiologi pasti telah ditetapkan untuk beberapa jenis tumor (Lund. 1991). Adenokarsinoma rongga hidung dan sinus dikenal umum diantara tukang kayu (Acheson dkk, 1962). Barton (1977) mendiskusikan peranan nikel sebagai karsinogen pada karsinoma sel skuamosa pada pekerja nikel. Di Norwegia, modifikasi proses industri dan program penyaringan diantara pekerja menghasilkan penurunan insiden. Di Inggris karsinoma sel skuamosa sinus paranasal pada pekerja nikel juga penyakit yang menentukan.

 Pekerja nikel memiliki peningkatan 100-870 kali angka normal karsinoma sel skuamosa. Kanker ini mungkin akan berkembang setelah 10 tahun atau lebih setelah pemaparan dan setelah 20 tahun masa laten. Serbuk kayu, kimiawi penyamak-kulit dan pembuat perabot secara khusus berhubungan dengan adenokarsinoma. Inhalan lain yang berhubungan dengan malignansi termasuk pigmen krom, radium, gas mustar dan hidrokarbon. Tembakau tidak memperlihatkan hubungan dengan kanker hidung dan sinus paranasal.

  1. Tanda dan Gejala

Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Tumor didalam sinus maxilla biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar, sehingga mendesak atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi, orbita atau intrakranial.

Targantung dari perluasan tumor, gejala dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Gejala nasal

Berupa obstruksi hidung unilateral dan rinorea. Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya bebau karena mengandung jaringan nekrotik.

2. Gejala orbital

Perluasan tumor kearah orbita menimbulkan gejala diplopia, protosis atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia, gangguan viss dan epifora.

3. Gejala oral

Perluasan tumor kerongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus dipalatum atau diprosesus alveolaris, pasien mengeluh gigi palsunya tidak asli lagi atau gigi geligi goyah. Seringkali pasien datang kedokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut.

4. Gejala fasial

Perluasan tumor kedepan akan menyebabkan penonjolan pipi. Disertai nyeri, anesthesia atau parestesia muka jika mengenai nervus trigeminus.
5. Gejala intrakranial

Perluasan tumor ke intrakranial menyebabkan sakit kepala hebat. Dapat disertai likuorea yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossak rani media maka saraf otak lainnya bisa terkena . jika tumor meluas kebelakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesia dan parestesia daerah yang dipersarafi nervus maksilaris dan mandibularis.

  1. Anatomi hidung

Nasofaring merupakan lubang sempit yang terdapat pada belakang rongga hidung. Bagian atap dan dinding belakang dibentuk oleh basi sphenoid, basi occiput dan ruas pertama tulang belakang. Bagian depan berhubungan dengan rongga hidung melalui koana. Orificium dari tuba eustachianberada pada dinding samping dan pada bagian depan dan belakang terdapat ruangan berbentuk koma yang disebut dengan torus tubarius. Bagian atas dan samping dari torus tubarius merupakan reses dari nasofaring yang disebut dengan fossa rosenmuller.

Nasofaring berhubungan dengan orofaring pada bagian soft palatum

  1. Klasifikasi

a. Tumor jinak

• Dari jaringan lunak : fibroma, neurofibroma, meningioma

• Dari jaringan tulang : osteoma, giant cell tumor, displasia fibrosa/ossifying fibrome.
• Odontogenik : kista-isata gigi, ameloblastoma.

b. Tumor pra ganas:

• Inverted papilloma

c. Tumor ganas:

• Dari epitel : karsinoma sel skuamosa, limfoepitelioma, karsinoma sel basal, silindroma dsb.

• Dari jaringan ikat : fibrisarkoma, rabdomiosarkoma.

• Dari jaringan tulang/tulang rawan: osteosarkoma, kondrosarkoma.

Hampir seluruh jenis histopatologi tumor jinak dan ganas dapat tumbuh didaerah sinonasal. Termasuk tumor jinak epitelial yaitu adenoma dan papiloma, yang non epitelial yaitu fibroma, angiofibroma, hemangioma,neurilemomma, osteoma, displasia fibrosa dan lain-lain.

  1. Patologi

Berbagai jenis tipe tumor berbeda telah dijelaskan terdapat pada rahang atas. Jenis histologis yang paling umum adalah karsinoma sel skuamosa, mewakili sekitar 80% kasus. 

Lokasi primer tidak selalu mudah untuk ditentukan dengan sejumlah sinus berbeda yang secara umum terlibat seiring waktu munculnya pasien. Mayoritas (60%) tumor tampaknya berasal dari antrum, 30% muncul dalam rongga hidung, dan sisa 10% muncul dari etmoid. Tumor primer frontal dan sfenoid sangat jarang. 

Limfadenopati servikal teraba muncul pada sekitar 15% pasien pada presentasi. Gambaran kecil ini disebabkan drainase limfatik sinus paranasal ke nodus retrofaring dan dari sana ke rantai servikal dalam bawah. Sebagai akibatnya, nodus yang terlibat diawal tidak mudah dipalpasi di bagian leher manapun.

  1. Jenis tumor

Rongga hidung dan sinus paranasal dibatasi oleh sebuah lapisan jaringan penghasil-mukosa dengan jenis-jenis sel sebagai berikut: sel epitel skuamosa, sel kelenjar saliva kecil, sel saraf, sel yang melawan-infeksi, dan sel pembuluh darah. Beberapa jenis tumor pada sel dan jaringan ini adalah:

  • Karsinoma Sel Skuamosa

Merupakan bentuk paling sering kanker rongga hidung dan sinus paranasal yang mengenai sinus maksila dan etmoid. Dikatakan mencapai 20% tumor pada daerah ini. Sel skuamosa merupakan sel datar yang membuat lapisan permukaan pipih struktur kepala dan leher. Sinus maksila terlibat 70% diikuti keterlibatan rongga hidung dalam 20% dengan sisanya berupa etmoid. Lesi primer yang berasal dari sinus frontal dan sfenoid jarang dijumpai. Kelainan ini terutama mengenai laki-laki dan muncul paling sering pada dekade keenam. Menyebar keluar dari sinus hampir merupakan kebiasaan presentasinya. Ketika ditemukan lebih dari 90% akan menginvasi ke setidaknya satu dinding sinus yang terlibat. Jika terdapat metastase, drainase nodus tingkat pertama adalah melalui pleksus pra-tube kedalam nodus retrofaring dan kemudian kedalam nodus subdigastrik. Kebanyakan kanker ini muncul pada stadium lanjut (22% T3/T4). Reseksi bedah diikuti radiasi paska operasi direkomendasikan sebagai penatalaksanaan kasus-kasus yang dapat direseksi. 

  • Adenokarsinoma

Dimulai di sel kelenjar, merupakan bentuk kedua tersering kanker rongga hidung dan sinus paranasal pada sinus maksila dan etmoid diperkirakan 5-20% kasus. Lesi ini cenderung lebih berlokasi superior dengan sinus etmoid yang paling banyak terlibat. Kebanyakan berhubungan dengan pemaparan pekerjaan. Lesi ini muncul mirip dengan karsinoma sel skuamosa dan dibagi secara histologis menjadi tingkat tinggi dan rendah.

1)     Melanoma maligna

Berkembang dari sel yang disebut melanosit yang memberi warna pada kulit, merupakan kanker yang agresif, namun hanya membuat sekitar 1% tumor di area tubuh. Antara 0,5-1% dari seluruh melanoma dikatakan berasal dari rongga hidung dan sinus paranasal, dimana merupakan 3,5% keseluruhan neoplasma sinonasal. Insiden tertinggi pada pasien pada dekade kelima sampai kedelapan. Rongga hidung paling sering terlibat dengan septum anterior merupakan lokasi tersering. Antrum maksila merupakan yang paling sering terlihat pada lokasi sinus. Biasanya terlihat sebagai massa berdaging polipoid dan pigmentasinya beragam. Pengobatan utamanya reseksi bedah dengan atau tanpa terapi radiasi paska operasi. Diseksi leher elektif saat ini tidak direkomendasikan disebabkan insiden rendah metastase leher tersembunyi. Untuk lesi rekuren, penyelamatan pembedahan, radiasi, kemoterapi atau kombinasi mungkin diperlukan. Keseluruhan prognosisnya buruk.

  • Estesioneuroblastoma

Estesioneuroblastoma adalah tumor ganas elemen penunjang epitel olfaktorius yang jarang terjadi. Tumor ini tumbuhnya lambat dan mampu bermetastasis ke paru-paru dan servikal. Gejala-gejala dini adalah epistaksis dan obstruksi hidung. CT-scan penting untuk menetapkan apakah terdapat perluasan pada intrakranial.

 

 

  1. Penatalaksanaan
  2. Pembedahan

Tindakan bedah memegang peranan utama dalam penanggulangan kasus tumor mediastinum

  1. Obat-obatan

Immunoterapi

Misalnya interleukin 1 dan alpha interferon

  1. Kemoterapi
    Kemoterapi telah menunjukkan kemampuannya dalam mengobati beberapa jenis tumor.
  2. Radioterapi

Masalah dalam radioterapi adalah membunuh sel kanker dan sel jaringan normal. Sedangkan tujuan radioterapi adalah meninggikan kemampuan untuk membunuh sel tumor dengan kerusakan serendah mungkin pada sel normal.

  1. pemeriksaan penunjang

a.       Nasofaringoskopi

b.      Rinoskopi posterior dengan atau tanpa kateter

c.       Biopsi multiple

d.      Radiologi :Thorak PA, Foto tengkorak, Tomografi, CT Scan, Bone scantigraphy (bila dicurigai metastase tulang)

e.       Pemeriksaan Neuro-oftalmologi : untuk mengetahui perluasan tumor kejaringan sekitar yang menyebabkan penekanan atau infiltrasi kesaraf otak, manifestasi tergantung dari saraf yang dikenai.

  1. Klompikasi

Komplikasi dari kelainan mediastinum mereflekikan patologi primer yang utama dan hubungan antara struktur anatomic dalam mediastinum. Tumor atau infeksi dalam mediastinum dapat menyebabkan timbulnya komplikasi melalui: perluasan dan penyebaran secara langsung, dengan melibatkan struktur-struktur (sel-sel) bersebelahan, dengan tekanan sel bersebelahan, dengan menyebabkan sindrom paraneoplastik, atau melalui metastatic di tempat lain. Empat komplikasi terberat dari penyakit mediastinum adalah:

  1. Obstruksi trachea
  2. Sindrom Vena Cava Superior
  3. Invasi vascular dan catastrophic hemorrhage, dan
  4. Rupture esofagus
  5. Pengkajiaan
  1. Askep teoritis

a. Data biografi

Berupa nama pasien, usia, TB,BB, tanggal masuk, TD, RR, Nadi dan suhu

b. Keluhan utama

      Mengeluh ketajaman sumbatan hidung, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga.

c. Riwayat perjalanan penyakit :

      Tanyakan sejak kapan pasien ketajaman sumbatan hidung, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga.

d. Riwayat kesehatan masa lalu

     Apakah klien ada riwayat penyakit ini sebelumnya

e.  Riwayat kesehatan keluarga

    Apakah ada keluarga yang menderita penyakit ini sebelumnya atau adakah keluarga yang menderita kanker misalnya ibu atau nenek sertapenyakit-penyakit keturunan.

f. Pemeriksaan Fisik

Saat memeriksa pasien, pertama-tama diperhatikan wajah pasien apakah terdapat asimetri atau tidak. Selanjutnya periksa dengan seksama kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopia anterior dan superior. Permukaan yang licin merupakan pertanda tumor jinak sedangkan permukaan yang berbenjol-benjol,rapuh dan mudah berdarah merupakan pertanda tmor ganas. Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medial berarti tumor berada di sinus maksila.

  • Sistem pernafasan

Data Subyektif: sesak nafas, dada tertekan, nyeri dada berulang

Data Obyektif: hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot diagfragma pernafasan diafragma dan perut meningkat, laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru, terdengar suara nafas abnormal, egophoni

  • Sistem kardiovaskuler

Data Subyektif: sakit kepala

Data Obyektif: denyut nadi meningkat, disritmia, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun.

  • Sistem Persarafan

Data Subyektif: gelisah, penurunan kesadaran

Data Obyektif: letargi

  • Sistem Perkemihan

Data Subyektif: –

Data Obyektif: produksi urine menurun

  • Sistem Pencernaan

Data Subyektif: mual, kadang muntah, anoreksia, disfagia, nyeri telan

Data Obyektif: konsistensi feses normal/diare, berat badan turun, penurunan intake makanan

  • Sistem Muskuloskeletal dan Integumen

Data Subyektif: lemah, cepat lelah

Data Obyektif: kulit pucat, sianosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat, suhu kulit meningkat /normal, tonus otot menurun, nyeri otot, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan, flail chest

  1. Sistem Endokrin
    1. Pengkajian Psikososial
    2. Personal Hygiene dan Kebiasaan

Perokok berat dapat terkena penyakit tumor mediastinum.

  • Pengkajian Diagnostik

Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
§ Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
§ Foto sinar X:

– WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus frontal)
– Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
– RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)

– CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)

  • § Biopsi:

– Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.

  1. Diagnosa keperawatan

1)       Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi/ proliferasi sel dan efek radiasi/chemoterapi.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi.

Kriteria Hasil :

–       Status nutrisi terpenuhi

–       nafsu makan klien timbul kembali

–       berat badan normal

–       jumlah Hb dan albumin normal

No

Intervensi

Rasional

1

Kaji sejauh mana ketidak adekuatan nutrisi klien

Menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.

2

Timbang berat badan sesuai indikasi

Mengawasi keefektifan secara diet

3

Memeberikan asupan nutrisi sesuai kebutuhan

Kebutuhan pasien akan nutrisi terpenuhi

4

Anjurkan makan sedikit tapi sering

Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan

5

Anjurkan kebersihan oral sebelum makan

Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan.

6

Kolaborasi ahli gizi pemberian  makanan yang bervariasi.

Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.

7

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian suplemen dan obat-obatan peningkat nafsu makan.

Menstimulasi nafsu makan dan mempertahankan intake nutrisi yang adekuat.

 

2)       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam.

Tujuan : Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.

Kriteria hasil    :Perilaku menampakkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri, pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivtas tanpa dibantu, koordinasi otot; tulang dan anggota gerak lainnya baik

 

 

 

No

Intervensi

Rasional

1

Rencanakan periode istirahat yang cukup.

Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

2

Berikan latihan aktivitas secara bertahap

Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

3

Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan

Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali

4

Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien

Menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan

 

 

    1. Implementasi

Pada tahap ini ntuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan.

    1. Evaluasi

Pada tahap akhir proses keperawatan adalah mengevaluasi respon pasien terhadap perawatan yang diberikan untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah dicapai. Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinyu, karena setiap tindakan keperawatan, respon pasien dicatat dan dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan kemudian berdasarkan respon pasien, revisi, intervensi keperawatan/hasil yang mungkin diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Tumor hidung adalah pertumbuhan kearah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dan vestibulum nasi.

Etiologi tumor hidung belum ditemukan, tetpi diduga beberapa zt hasil industri berupa nikel, debu kayu, formaldehid, kulit, kromium, dan lain-lain.pekerjaan di bidang seperti ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung. 

Insiden tertinggi tumor ganas yang ditemukan jepang yaitu 2/10.000 pendududk pertahun. Di bagin THT FKUI-RSCM keganasan inni ditemukan 10,1% dari seluruh tumor ganas THT. Resiko terkena laki-laki dan wanita yaitu 2:1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pandi PS. Aspek Klinis Tumor Ganas dalam Bidang THT. Sim- posium Diagnostik dan Terapi Tumor Kepala dan Leber, Jakarta 1983 : 63-79.

 Budi Susanto- dan Hoedijono R. Papiloma Inversum di Hidung. MKI No. 7-8-9, 1978

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s