makalah asertif

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990)  Stresterhim dan Boer (1980), mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari oroentasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

  1. Tujuan
  1. Tujuan Umum

Makalah ini bertujuan untuk agar penulis dan pembaca dapat mengerti dengan perilaku asertif.

  1. Tujuan Khusus

Agar penulis dan pembaca dapat menjelaskan tentang:

a)      Perbedaan antara perilaku pasif, agresif, dan asertif.

b)      Teknik-teknik asertif

c)      Unsur-unsur asertif

d)     Ciri-ciri asertif

e)      Petunjuk menjadi asertif

BAB II

ISI

  1. A.    Pengertian

Ketegasan berasal dari kata dasar tegas, yang dalam kamus Bahasa Indonesia berarti; nyata, jelas dan terang benar, tentu tidak ragu lagi, tidak bimbang lagi, tidak samarsamar, menerangkan, mengatakan dengan pasti, kejelasan, kepastian, dengan kata lain ketegasan diri merupakan sebuah sikap terhadap sesuatu hal yang tidak ragu lagi dan penuh pertimbangan (telah dipikirkan dengan matang) dengan resiko yang akan diperoleh.

Assertivitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu “assert” yang berarti menyatakan, menegaskan, menuntut dan memaksa (Anne Rachmawati, 2007:32). Menurut kamus Webster Third International kata kerja “assert” berarti menyatakan atau bersikap positif, yakni berterus terang atau tegas. To assert dapat juga berarti menyatakan dengan sopan dan manis serta hal-hal lain yang menyenangkan diri sendiri. Assertion artinya pernyataan yang tegas. Dalam kamus KBBI, tegas diartikan sebagai tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar lagi).

John Milton Dillard (1985 : 184) mengemukakan bahwa “assertive behavior simply means expressing feeling, belief, and preferences in a way that is direct and proprieta”,

sedangkan Arthur J. Lange and Patricia Jakubowsky (1985 : 132), mengartikan asertif sebagai “assertion involves standing up a personal rights and expressing thought, feeling and belief in direct, honest and appropriate ways which do not violate person rights”.

Sementara itu Joseph Wolpe (Festerhem and Bear, 1995 : 22) mendefinisikan perilaku asertif sebagai perilaku individu yang penuh keyakinan diri. Artinya pernyataan yang tepat dari setiap emosi daripada kecemasan terhadap orang lain.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas dapat dikatakan bahwa sikap asertif adalah perasaan dan pikiran yang diungkapkan seseorang secara langsung melalui ekspresi verbal yang jujur dan merupakan proses penegasan hak diri sendiri (Anne Rachmawati, 2007 : 33).

 

  1. B.     Teknik-Teknik Asertif

a)      Memberikan Umpan Balik

Membiarkan orang lain tahu bagaimana Anda merespon perilaku mereka dapat membantu menghindari kesalah pahaman dan membantu menyelesaikan konflik yang tidak dapat dihindari dalam suatu hubungan. Bagaimanapun, memberikan umpan balik yang jujur ketika Anda mendapat reaksi negatif karena perilaku orang lain memang sulit dilakukan tanpa menyakiti perasaan. Sering kali, untuk memperbaiki hubungan Anda dalam jangka panjang, Anda harus menyatakan bahwa Anda kecewa pada apa yang mereka telah lakukan. Ketika Anda memilih untuk menyampaikan umpan balik negatif kepada orang lain, gunakan teknik komunikasi yang tidak berkesan mengancam. Kriteria untuk umpan balik yang bermanfaat termasuk:

1)      Umpan balik difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya.

Dengan memfokuskan pada perilaku, Anda mengarahkan umpan balik kepada sesuatu yang dapat diubah oleh seorang individu.

2)      Umpan balik bersifat deskriptif bukan evaluatif.

Menjelaskan apa yang telah dikatakan atau dilakukan berkesan lebih tidak mengancam dibandingkan dengan menghakimi mengapa sesuatu dilakukan (yang hanya berdasarkan asumsi Anda).

3)      Umpan balik berfokus pada reaksi Anda sendiri bukan maksud orang lain.

Menyalahkan atau menganggap ada maksud buruk dibalik perilaku orang lain bukan merupakan umpan balik yang konstruktif. Umpan balik menggunakan kata “saya” dengan bentuk kalimat “Ketika kamu [lakukan atau katakan]___saya merasa___.” Sebagai contoh, “Ketika kamu terlambat datang kerja, saya merasa frustasi dan marah” adalah lebih baik daripada “Kamu tidak bertanggungjawab. Kamu tidak peduli pada pasien yang menunggu dan pekerja lain yang menggantikanmu ketika kau telat”.

4)      Umpan balik bersifat spesifik bukan umum.

Umpan balik fokus pada perilaku yang baru saja terjadi dan menghindari mengungkit perilaku di masa lalu. Umpan balik juga tidak boleh menyamaratakan atau terlalu jauh dari peristiwa spesifik yang telah membuat Anda kesal (misalnya “Kamu selalu melakukan )

5)      Umpan balik difokuskan pada penyelesaian masalah.

Bukan bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan suatu masalah yang timbul pada suatu hubungan sehingga hubungan tersebut dapat berkembang lebih baik.

6)      Umpan balik disampaikan secara pribadi.

b)     Meminta Umpan Balik Dari Orang Lain

Seperti telah dijelaskan di atas, kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat. Pada saat yang bersamaan, kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita. Sebagai contoh, sebagai seorang perawat, Anda harus menilai kepuasan pasien secara rutin dan meminta umpan balik mengenai pelayanan Anda. Sebagai manajer, Anda harus membiarkan para pekerja tahu bahwa Anda menerima saran dari mereka mengenai bagaimana mengembangkan operasional di rumah sakit (tempat kerja). Kemampuan Anda untuk mendengar kritik atau saran tanpa sikap defensif atau marah, mengakui ketika Anda berbuat kesalahan, dan mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik (meskipun hal itu negatif) akan membuat orang lain jujur saat berkomunikasi dengan Anda. Mereka juga membantu Anda untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada praktek profesional Anda yang mungkin perlu perbaikan dan membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

c)      Menentukan Batasan

Bertindak asertif dengan menentukan batasan tidak berarti bahwa Anda berhenti berkata “ya” terhadap semua permintaan. Anda akan tetap membantu orang lain, karena adanya nilai-nilai yang Anda pegang dan keinginan Anda untuk membantu orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan, meskipun ketika melakukannya Anda mungkin merasa tidak nyaman. Ketika menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah menentukan seberapa jauh Anda mau memenuhi permintaan tersebut. Jika Anda perlu waktu untuk mengambil keputusan, menunda keputusan adalah tindakan yang tepat asalkan Anda kembali ke orang tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Seringkali respon tidak selalu berarti “ya” atau “tidak” tetapi bisa juga berupa tawaran untuk memenuhi sebagian dari permintaan. Berkata “tidak” atau menentukan batasan mungkin sulit jika Anda yakin bahwa orang tersebut harusnya tahu bahwa Anda memiliki alasan yang tepat untuk berkata “tidak”.

d)     Membuat Permintaan

Meminta sesuatu yang anda inginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada hubungan yang sehat. Jika anda berada pada posisi manajemen, menyatakan dengan jelas apa yang anda harapkan dari orang lain adalah suatu bagian penting untuk mencapai tujuan organisasi. Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan, termasuk meminta pertolongan, adalah suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus percaya bahwa orang lain akan dapat merespon permintaan kita secara asertif, termasuk berkata “tidak”. Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif.

e)      Berlaku Persisten

     Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hak-hak Anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata “tidak’, kemudian orang-orang tersebut akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita mengulangi lagi menyatakan keputusan kita dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon ini, mengulangi menyatakan keputusan tadi dengan santai, sering disebut sebagai respon “kaset rusak” (Smith, 1975). Respon seperti ini akan menghentikan, bahkan orang yang paling manipulatif, tanpa menimbulkan rasa bersalah atau meningkatkan konflik.

f)       Membingkai Kembali

Bingkai adalah “jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal” (Kaufman et al, 2003). Teknik pembingkaian kembali (reframing) yang dijelaskan oleh Kaufman dkk termasuk:

1)      Fokus pada membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok/set tujuan yang terbatas.

2)      Menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain.

3)      Menentukan di mana kesamaan pandangan/tujuan. Mencari hal-hal yang samasamadisetujui dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif  jangka panjang.

4)      Mengenali kesempatan untuk mencari solusi-solusi yang belum dieksplorasi/ dipikirkan lebih mendalam dan kesempatan-kesempatan yang dapat saling ditawarkan (trade-off) atau kompromi-kompromi.

5)      Terakhir, mengenali perbedaaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang bersamaan mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi konflik.

g)      Mengabaikan Provokasi

Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk “menang” dengan cara menghina atau mengintimidasi orang lain. Sebagai contoh, pasien yang marah atau merasa putus asa mungkin menyerang dengan serangan personal. Farmasis  yang merasa dikritik secara tidak adil mungkin merespon dengan sikap agresif atau sarkastik. Konflik interpersonal antara profesional-profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi (sering disebut “perang kartu kunci/turf battle”). Mengabaikan komentar yang bersifat mencela dari orang lain dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat ke arah yang dapat merusak hubungan.

h)     Merespon Kritik

Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur karena kita biasanya memegang dua keyakinan irasional yang umum:

1)      Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal,

2)      Bahwa kita harus benarbenar kompeten/mampu dalam segala hal yang kita lakukan tanpa pernah melakukan kesalahan. Karena standar perfeksionis seperti itu tidak mungkin dicapai, kita secara terus menerus menghadapi perasaan gagal atau tidak berguna. Pada beberapa kasus, kita mungkin mempunyai keinginan untuk “membalas dendam” dengan melakukan serangan balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu-satunya untuk meniadakan perasaan seperti itu dan untuk mulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.

  1. C.    Unsur-Unsur Asertif

a)      Terbuka dan jelas

Upayakan berkomunikasi secara jelas dan spesifik.

b)      Langsung

Berbicara langsung dengan subyek yang bersangkutan, jangan membawa masalah ke orang lain yang tidak berhubungan.

c)      Jujur

Berkata jujur agar dapat dipercaya

d)      Tepat dalam bersikap

Pastikan memperhitungkan nilai sosial dalam berbicara.

e)      Tanyakan umpan balik

Menanyakan umpan balik menjadi bukti bahwa anda lebih mengutarakan pendapat daripada perintah.

  1. D.      Ciri-Ciri Asetif

a)      Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain.

b)      Mendengarkan pendapat orang lain dan memahaminya.

c)      Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain.

d)      Mencari solusi bersama dan keputusan.

e)      Menghargai diri sendiri dan orang lain dan mampu mengatasi konflik.

f)       Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati.

g)      Mempertahankan hak diri

  1. E.     Cara Bersikap Asertif

Menurut Bourne, (1995), untu menjadi individu yang asertif dibutuhkan strategi, sebagai berikut:

1)      Evaluasi terhadap hak-hak pribadi.

Tentukan apa yang menjadi hak anda dalam situasi yang sedang dihadapi. Misalnya, Anda berhak membuat kesalahan dan mengubah pikiran anda.

2)      Mengemukakan problem dan konsekuensinya kepada orang yang terlibat dalam konflik.

 Deskripsikan problem seobjektif mungkin tanpa menyalahkan atau menghakimi, denganmenjelaskan sudut pandang anda.

3)      Mengekspresikan perasaan tentang situasi tertentu.

Ketika anda menyatakan perasaan anda, bahkan orang yang tidak setuju dengan anda sekalipun akan bisa mengerti perasaan anda tentang situasi itu. Ingat, gunakan pesan “aku” bukan pesan “kamu”.

4)      Mengemukakan apa yang menjadi permintaan.

Ini adalah aspek penting dari bersikap asertif. Kemukakan keinginan anda atau yang tidak anda inginkan secara langsung.

  1. F.     formulaAsertif

1)      Appreciation.

Dengan cepat dan tanggap memberikan penghargaan dan rasa hormat terhadap kehadiran orang lain sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka tanpa menunggu mereka untuk lebih dahulu memperhatikan, memahami, menghormati dan menghargai kita.

2)      Acceptance

Adalah perasaan mau menerima, memberikan arti sangat positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang, yaitu menjadi pribadi yang terbuka dan dapat menerima orang lain sebagaimana keberadaan diri mereka masing-masing. Dalam hal ini, kita tidak memiliki tuntutan berlebihan terhadap perubahan sikap atau perilaku orang lain (kecuali yang negatif) agar ia mau berhubungan dengan mereka. Tidak memilih-milih orang dalam berhubungan, dengan tidak membatasi diri hanya pada keselarasan tingkat pendidikan, status sosial, suku, agama, keturunan, dan latar belakang lainnya.

3)      Accomodating.

Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali, merupakan perilaku yang sangat positif. Keramahan senantiasa memberikan kesan positif dan menyenangkan kepada semua orang yang kita jumpai. Keramahan membuat hati kita senantiasa terbuka, yang dapat mengarahkan kita untuk bersikap akomodatif terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi, tanpa meninggalkan kepribadian kita sendiri

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

                  Terdapat beberapa teknik komunikasi atau strategi yang berguna dalam menanggapi situasi yang cenderung menjadi konflik. Diantaranya yaitu;memberikan umpan balik, meminta umpan balik dari orang lain, menentukan batasan, membuat permintaan, berlaku persisten, membingkai kembali, mengabaikan profokasi, dan merespon kritik.

                  Dalam komunikasi asertif dibutuhkan beberapa unsure, yaitu: terbuka dan jelas, langsung, jujur, tepat dalam bersikap, dan tanyakan umpan balik.

                  Komunikasi sertif memiliki ciri-ciriterbuka dan jujur, mau mendengarkan, memberi pendapat, mencari solusi, saling menghargai, menyatakan perasaan pribadi, dan mempertahankan hak pribadi.

                  Untuk mencapai perilaku asertif di butuhkan petunjuk, yaitu: evaluasi terhadap hak-hak pribadi, mengemukakan problem dan konsekuensi konflik,mengekspresikan perasaan tetntang situasi, dan mengemukakan apa yang menjadi permintaan.

                  Formula-formula yang mendukung terjadinya erilaku asertif, yaitu: appreciation,acceptance, dan accommodating.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Anne Rachmawati, S. Pd. 2007. Efektifitas Program Bimbingan Sosial Pribadi dalam

Meningkatkan Assertivitas Remaja. Skripsi S1 FIP UPI Bandung. Tidak diterbitkan.

Chalhoun, James F dan Joan Ross Acocella. 1995. Self-Concept (terjemahan).

Semarang:IKIP Semarang Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s