askep empisiema

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

       Diera globalisasi ini,banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi akibat kemajuan teknologi yang semakin canggih. Masalah yang sering muncul diperkotaan adalah gangguan fungsi pernapasan. Gangguan ini terjadi karena semakin banyaknya jumlah polusi yang ada di daerah perkotaan. Apakah gangguan pernapasan hanya menyerang orang yang tinggal diperkotaan? Jawabanya “tidak”. Semua orang dapat mengalami gangguan pernapasan, tetapi yang lebih sering adalah mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Salah satu masalah pernapasaan yaitu Emfisema yang akan saya bahas dalam makalah ini. emfisema adalah Penyakit Paru Obstruksi Kronik. Polusi merupakan menyebab utama terjadinya emfisema. Penderitaemfisema mengalami kemajuan seiring dengan kemajuan teknologi. Tidak hanya kemajuan teknologi yang dapat menyebabkan terjadinya emfisema, gaya hidup juga dapat menyebabkan terjadinya emfisema seperti merokok. Asap rokok dapat menggagnggu fungsi dari silia. Selain itu factor genetik dan infeksi juga berperan sebagai pendukung terjadinya emfisema.

            Emfisema dapat dialami pria dan wanita, tetapi yang lebih sering dialami oleh pria. Kenapa lebih sering dialami pria? Karena pria lebih banyak yang merokok dibandingkan wanita, selain itu pria lebih sering bekerja di luar rumah yang banyak sekali polusi, terutama para buruh.

            Penderita emfisema pada awalnya tidak menunjukkan tanda dan gejala mengalami emfisema ini. Gejala semakin berat setelah penyakit semakin parah. Tanda dan gejala yang tampak pada penderita emfisema adalah dispnea atau kesulitan bernapas. Dispnea dapat terjadi saat klien melakukan aktivitas. Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami emfisema kita dapat melakukan pemeriksaan diagnosti untuk menunjang diagnosis. Dalam keperawatan tindakan awal yang kita lakukan adalah pemeriksaan fisik, dengan melakukan pemeriksaan fisik kita dapat membuat analisis data dan mendapatkan diagnosa, setelah itu kita dapat merencanakan tindakan keperawatan ( intervensi ), kemudian implementasi. Setiap melakukan tindakan keperawatan harus selalu melakukan evaluasi. Evaluasi untuk melihat hasil dari intervensi dan tindakan yang kita lakukan dan dapat mencegah terjadinya kesalahan dalam tindakan keperawatan.

 

 

 

 

 

  1. Tujuan
  • Tujuan umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan ampesiema

  • Tujuan khusus
  • Untuk mengetahui pengkajian pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui intervensi pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui implementasi  pada klien ampiema
  • Untuk mengetahui evaluasi pada klien ampiema

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. Tinjauan Teoritis
  1. Defenisi

Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun ekspirasi. ( Kus Irianto 2004.216 )

Emfisema merupakan morfologik didefisiensikan sebagai abnormal ruang- ruang paru distal dari bronkiolus terminal dengan destruksi dindingnya. ( Robbins. 1994.253)

Emfisema adalah penyakit obstruksi kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli. ( Corwin. 2000.435 )

  1. Etiologi

Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :1. Rokok Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalannafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi danhiperplasia kelenjar mukus bromkus.2. PolusiPolutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angkakematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padatindustrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkangangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar.3. InfeksiInfeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakitinfeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale,dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapatmenyebabkan terjadinya emfisema.4. Genetik 5. Paparan Debu

  1. Manifestasi Klinis

1.Dispnea

2.Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’

3.Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)

4.Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.

5.Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi

6.Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum

7.Distensi vena leher selama ekspirasi.

  1. Klasifikasi

Terdapat 2 (dua) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru :
a.    Panlobular (panacinar), yaitu terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan.
b.    Sentrilobular (sentroacinar), yaitu perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.

  1. Patofisiologi

Emfisema merupakan kelainan di mana terjadi kerusakan pada dinding alveolus yang akan menyebebkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara akan tergangu akibat dari perubahan ini. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru-paru untuk melakukan pertukaran O2 dan CO2. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) di antara alveoli, jalan nafas kolaps sebagian, dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil. Pada saat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan di antara ruang alveolus yang disebut blebsdan di antara parenkim paru-paru yang disebut bullae. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada ‘dead space’ atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru-paru, selanjutnya terjadi penurunan perfusi O2 dan penurunan ventilasi. Emfisema masih dianggap normal jika sesuai dengan usia, tetapi jika hal ini timbul pada pasien yang berusia muda biasanya berhubungan dengan bronkhitis dan merokok.

Penyempitan saluran nafas terjadi pada emfisema paru. Yaitu penyempitan saluran nafas ini disebabkan elastisitas paru yang berkurang. Penyebab dari elastisitas yang berkurang yaitu defiensi Alfa 1-anti tripsin. Dimana AAT merupakan suatu protein yang menetralkan enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan paru. Dengan demikian AAT dapat melindungi paru dari kerusakan jaringan pada enzim proteolitik. Didalam paru terdapat keseimbangan paru antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan. Perubahan keseimbangan menimbulkan kerusakan jaringan elastic paru. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema. Sumber elastase yang penting adalah pankreas. Asap rokok, polusi, dan infeksi ini menyebabkan elastase bertambah banyak. Sedang aktifitas system anti elastase menurun yaitu system alfa- 1 protease inhibator terutama enzim alfa -1 anti tripsin (alfa -1 globulin). Akibatnya tidak ada lagi keseimbangan antara elastase dan anti elastase dan akan terjadi kerusakan jaringan elastin paru dan menimbulkan emfisema. Sedangkan pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan yang menarik jaringan paru keluar yaitu yang disebabkan tekanan intra pleural dan otot-otot dinding dada dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru.

Pada orang normal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal, tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang sehingga saluran nafas bagian bawah paru akan tertutup. Pada pasien emfisema saluran nafas tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Cepatnya saluran nafas menutup serta dinding alveoli yang rusak, akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Tergantung pada kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada akan tetapi perfusi baik sehingga penyebaran udara pernafasan maupun aliran darah ke alveoli tidak sama dan merata. Sehingga timbul hipoksia dan sesak nafas.

Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai sebagian atau seluruh paru. Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstrusi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus.

 

 

  1. Penatalaksanaan

a.    Penatalaksanaan Umum
1.    Pendidikan terhadap keluarga dan penderita
2.    Menghindari rokok dan zat inhalasi
3.    Menghindari infeksi saluran nafas
b.    Pemberian obat-obatan
1.    Bronkodilator
Ø    Derivat Xantin
Ø    Gol Agonis b2
Ø    Antikolinergik
Ø    Kortikosteroid
2.    Ekspectoran dan Mucolitik
3.    Antibiotik
4.    Terapi oksigen
5.    Latihan fisik
6.    Rehabilitasi
7.    Fisioterapi

  1. Komplikasi
  • Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan
  • Daya tahan tubuh kurang sempurna
  • Tingkat kerusakan paru semakin parah
  • Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas
  • Pneumonia
  • Atelaktasis
  • Pneumothoraks
  • Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien.
  • Sering mengalami infeksi ulang pada saluran pernapasan

 

 

  1. Askep Teoritis
  1. Pengkajiaan
  • Riwayat Sakit dan Kesehatan

1.      Keluhan Utama : sesak napas.

2.      Riwayat Penyakit Sekarang :

    Tuan A tinggal bersama istri dan dua anaknya. Tuan A mengeluh sesak napas, batuk, dan nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas. Banyak sekret keluar ketika batuk, berwarna kuning kental. Tuan A tampak kebiruan pada daerah bibir dan dasar kuku. Tuan A merasakan sedikit nyeri pada dada. Tuan A cepat merasa lelah saat melakukan aktivitas.

3.   Riwayat Penyakit dahulu : 

    Tuan A selama 3 tahun terakhir mengalami batuk produktif dan pernah menderita pneumonia

4.   Riwayat Keluarga :

    Tidak Ada

  • Pemeriksaan fisik
    1.    Inspeksi
    Paru hiperinflasi, ekspansi dada berkurang, kesukaran inspirasi, dada berbentuk barrel chest, dada anterior menonjol, punggung berbentuk kifosis dorsal.
    2.    Palpasi
    Ruang antar iga melebar, taktik vocal fremitus menurun.
    3.    Perkusi 
    Terdengar hipersonor, peningkatan diameter dada anterior posterior.
    4.    Auskultasi
    Suara napas berkurang, ronkhi bisa terdengar apabila ada dahak
  • Review of System

1. Pernafasan

      Bentuk dada : barrel chest

      Pola nafas : tidak teratur

      Suara napas : mengi

      Batuk : ya, ada sekret

      Retraksi otot bantu napas : ada

      Alat bantu pernapasan : O2 masker 6 lpm

2. Kardiovaskular

Irama jantung : regular; S1,S2 tunggal.

Nyeri dada : ada, skala 6

Akral : lembab

Tekanan darah: 130/80 mmHg (hipertensi)

Saturasi Hb O2 : hipoksia

3. Persyarafan

Keluhan pusing (-)

Gangguan tidur (-)

4. Perkemihan

Kebersihan : normal

Bentuk alat kelamin : normal

Uretra : normal

5. Pencernaan

Nafsu makan : anoreksi disertai mual

BB : menurun

Porsi makan : tidak habis, 3 kali sehari

Mulut : bersih

Mukosa : lembab

 

6. Muskuloskeletal/integument

Turgor kulit : Berkeringat

Massa otot : menurun

7. Pengkajian Psikologi dan Spiritual

Klien kooperatif, tetap  rajin beribadah dan memohon agar penyakitnya bisa disembuhkan.

  • Pemeriksaan Penunjang

a) Sinar x dada: Xray tanggal 12 November dengan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).

Kesimpulan : emfisema paru.

b)  pO2 : 75 mmHg (↓)

c) pCO2 : 50 mmHg (↑

d)       SO3 : 100%

b. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi.
2. Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir, bronkokonstriksi, dan iritan jalan napas.
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sekret.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen.

c. Intervensi

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi.

Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas.

Intervensi :
1) Berikan bronkodilator sesuai yang diresepkan.
2) Evaluasi tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB.
3) Instruksikan dan berikan dorongan pada pasien pada pernapasan diafragmatik dan batuk efektif.
4) Berikan oksigen dengan metode yang diharuskan.

Rasional:
1) Bronkodilator mendilatasi jalan napas dan membantu melawan edema mukosa bronchial dan spasme muscular.
2) Mengkombinasikan medikasi dengan aerosolized bronkodsilator nebulisasi biasanya digunakan untuk mengendalikan bronkokonstriksi.
3) Teknik ini memperbaiki ventilasi dengan membuka jalan napas dan membersihkan jalan napas dari sputum. Pertukaran gas diperbaiki.
4) Oksigen akan memperbaiki hipoksemia.
Evaluasi:
© Mengungkapkan pentingnya bronkodilator.
© Melaporkan penurunan dispnea.
© Menunjukkan perbaikan dalam laju aliran ekspirasi.
© Menunjukkan gas-gas darah arteri yang normal.

2. Pola pernapasan tidak efektif yang berhubungan dengan napas pendek, lendir, bronkokonstriksi, dan iritan jalan napas.
Tujuan : perbaikan dalam pola pernapasan.

Intervensi :
1) Ajarkan pasien pernapasan diafragmatik dan pernapasan bibir dirapatkan.
2) Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dengan periode istirahat.
3) Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernapasan jika diharuskan.

Rasional :
1) Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernapas lebih efisien dan efektif.
2) Memberikan jeda aktivias akan memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.
3) Menguatkan dan mengkoordinasiakn otot-otot pernapasan.

Evaluasi :
© Melatih pernapasan bibir dirapatkan dan diafragmatik serta menggunakannya ketika sesak napas dan saat melakukan aktivitas.
© Memperlihatkan tanda-tanda penurunan upaya bernapas dan membuat jarak dalam aktivitas.
© Menggunakan pelatihan otot-otot inspirasi, seperti yang diharuskan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

    Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah sebagai berikut :

Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya. Gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.

Terdapat 3 (tiga) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru : PLE (Panlobular Emphysema/panacinar), CLE (Sentrilobular Emphysema/sentroacinar), Emfisema Paraseptal.

Asuhan keperawatan pada penderita emfisema secara garis besar adalah membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen klien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baughman,D.C& Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001

Mills,John& Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru.Jakarta : EGC

Perhimpunan Dokter Sepesialis Penyakit Dalam Indonesia. Editor Kepela : Prof.Dr.H.Slamet Suryono Spd,KE

Soemarto,R.1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya : RSUD Dr.Soetomo

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s